Suasana malam Minggu di Pondok Bambu, Jakarta Timur, terasa berbeda. Di kediaman orang tua Yoga Nauval, puluhan orang berkumpul. Mereka menggelar doa bersama, berharap mukjizat menyertai Yoga, operator foto udara yang menjadi korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Maros.
Harapan itu menguat di antara untaian doa. Keluarga dan kerabatnya masih menggenggam erat kemungkinan Yoga pulang dengan selamat. Acara yang digelar malam itu dipimpin seorang ustaz dari masjid setempat.
“Kita semua tahu, beliau jadi salah satu korban pesawat ATR di Maros. Sampai saat ini, kami belum juga tahu keberadaannya,” ujar Yuda, paman Yoga, suaranya terdengar lirih di tengah kerumunan.
“Makanya, kami undang bapak-ibu semua untuk sama-sama mendoakan. Semoga Allah berikan mukjizat terbaik buat saudara kami, Yoga Nauval.”
Lantunan ayat suci mengisi ruangan. Mulai dari Al-Fatihah hingga Yasin dibacakan dengan khusyuk. Semua yang hadir menunduk, hening, memohon keselamatan.
Pesawat yang ditumpangi Yoga sendiri dicarter oleh Ditjen PSDKP KKP untuk misi pengawasan. Kabar terbaru, jenazah seorang korban laki-laki telah ditemukan di lereng Gunung Bulusaraung. Namun begitu, identitasnya masih diselidiki. Informasi itu tentu menambah beban, tapi keluarga Yoga memilih untuk tetap berdoa dan tak putus harapan.
Artikel Terkait
Cemburu Buta Berujung Pembunuhan, Pelaku dan Komplotan Ditangkap di Jombang
TNI dan Warga Nduga Gotong Royong Evakuasi Jenazah di Landasan Udara Terpencil
Kuasa Hukum Ungkap Hubungan Inara Rusli dan Insanul Fahmi Kini Merenggang
BNI Pastikan Pengembalian Dana Rp28 Miliar Credit Union Aek Nabara pada 22 April 2026