Menteri Agama Nasaruddin Umar baru saja terbang ke Kairo. Tujuannya jelas: menjalankan tugas langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Salah satu agenda utamanya adalah membahas rencana yang cukup ambisius, yaitu membuka cabang Universitas Al-Azhar di tanah air.
Sebelum pesawatnya lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta, Minggu lalu, Nasaruddin sempat berbagi penjelasan.
"Akan menindaklanjuti petunjuk Bapak Presiden terkait kemungkinan bekerja sama dengan Al-Azhar di Indonesia," ujarnya.
Menurutnya, kerja sama semacam ini pernah dibicarakan dalam sejumlah pertemuan bilateral dengan negara-negara Muslim lain. Gagasan membuka kampus cabang di sini bukan tanpa alasan. Nasaruddin melihat ini sebagai solusi yang cukup cerdas. Selama ini, mahasiswa dari Asia Tenggara yang ingin menimba ilmu di Al-Azhar harus rela merantau jauh ke Mesir, menghadapi segala macam tantangan, mulai dari biaya hingga adaptasi budaya.
"Sudah waktunya Al-Azhar itu dibantu dengan membuka cabang di Indonesia," tegasnya.
Dengan begitu, anak-anak muda dari kawasan Asia Tenggara tak perlu lagi terbang sejauh itu. Cukup ke Indonesia. Sementara untuk tenaga pengajar dan kurikulumnya, akan didatangkan langsung dari Mesir.
Di sisi lain, langkah ini juga disebut bisa meringankan beban Al-Azhar sendiri. Situasi di Mesir saat ini memang tidak mudah. Nasaruddin menyoroti bagaimana negara itu sedang 'overloaded'. Beban ekonominya berat, ditambah lagi dengan menanggung arus pengungsi yang besar dan lonjakan jumlah mahasiswa internasional.
"Mesir sekarang overloaded," katanya, menggarisbawahi urgensi kerja sama ini.
Kabarnya, ide ini sudah mendapat angin segar. Dukungan mengalir dari beberapa negara sahabat seperti Qatar, Abu Dhabi, dan Yordania. Nantinya, skema yang akan digodok bisa beragam bentuknya. Mulai dari program gelar ganda, pengajar bersama, hingga model pengajaran langsung yang diisi dosen-dosen asli Al-Azhar.
Namun begitu, urusan pendidikan bukan satu-satunya misi Menag di negeri piramida itu. Ada undangan resmi yang menunggunya. Nasaruddin dijadwalkan menjadi pembicara kunci dalam sebuah seminar internasional bertema ekoteologi, atas mandat presiden.
"Atas izin Bapak Presiden, ada undangan yang sangat terhormat," jelasnya.
Topik ekoteologi rupanya sedang menjadi perhatian dunia, dan Indonesia dinilai punya peran penting. Nasaruddin menuturkan, pandangan Indonesia tentang harmoni antara agama dan pelestarian lingkungan mulai banyak dilirik. Bahkan, dalam forum lintas agama di Vatikan sekalipun, isu ini mendapat sambutan hangat.
“Dianggap paling representatif untuk bicara ekoteologi saat ini adalah Indonesia,” kata Nasaruddin dengan nada percaya diri.
Pada akhirnya, kunjungan kerja ini diharapkan bukan sekadar seremonial. Ada harapan besar agar posisi Indonesia sebagai pusat pendidikan Islam global semakin kokoh. Sekaligus, tentu saja, untuk memperluas jangkauan diplomasi di panggung dunia, baik di bidang keagamaan maupun pendidikan.
Artikel Terkait
Tiga Biawak Jatuh dari Plafon, Damkar Bogor Evakuasi Selama Satu Jam
KY Umumkan 139 Calon Hakim Agung dan 81 Calon Hakim Ad Hoc Lolos Seleksi Administrasi
Calon Ketua Fed Warsh Tegaskan Independensi, Usung Perubahan Rezim
IHSG Dibuka Anjlok 0,41%, Pergerakan Sektor Beragam