"Mesir sekarang overloaded," katanya, menggarisbawahi urgensi kerja sama ini.
Kabarnya, ide ini sudah mendapat angin segar. Dukungan mengalir dari beberapa negara sahabat seperti Qatar, Abu Dhabi, dan Yordania. Nantinya, skema yang akan digodok bisa beragam bentuknya. Mulai dari program gelar ganda, pengajar bersama, hingga model pengajaran langsung yang diisi dosen-dosen asli Al-Azhar.
Namun begitu, urusan pendidikan bukan satu-satunya misi Menag di negeri piramida itu. Ada undangan resmi yang menunggunya. Nasaruddin dijadwalkan menjadi pembicara kunci dalam sebuah seminar internasional bertema ekoteologi, atas mandat presiden.
"Atas izin Bapak Presiden, ada undangan yang sangat terhormat," jelasnya.
Topik ekoteologi rupanya sedang menjadi perhatian dunia, dan Indonesia dinilai punya peran penting. Nasaruddin menuturkan, pandangan Indonesia tentang harmoni antara agama dan pelestarian lingkungan mulai banyak dilirik. Bahkan, dalam forum lintas agama di Vatikan sekalipun, isu ini mendapat sambutan hangat.
“Dianggap paling representatif untuk bicara ekoteologi saat ini adalah Indonesia,” kata Nasaruddin dengan nada percaya diri.
Pada akhirnya, kunjungan kerja ini diharapkan bukan sekadar seremonial. Ada harapan besar agar posisi Indonesia sebagai pusat pendidikan Islam global semakin kokoh. Sekaligus, tentu saja, untuk memperluas jangkauan diplomasi di panggung dunia, baik di bidang keagamaan maupun pendidikan.
Artikel Terkait
Washington Paksa Netanyahu Mundur, Ambil Alih Kendali Gaza Sendiri
Arus Balik Libur Padati Gerbang Tol Jakarta, 157 Ribu Kendaraan Kembali dalam Sehari
Cinta Tak Tergenang Banjir: Pengantin Digendong di Resepsi yang Banjir
Prabowo Siap Sambangi Davos Usai Pertemuan dengan Raja Charles dan PM Inggris