Elon Musk sedang menuntut hal yang luar biasa: angka fantastis senilai 134 miliar dolar AS dari OpenAI dan Microsoft. Itu setara dengan lebih dari dua ribu triliun rupiah. Tuntutan ini, yang diajukan ke pengadilan federal, berangkat dari klaim Musk bahwa dirinya berhak atas sebagian keuntungan kedua raksasa teknologi itu. Dasarnya? Dukungan awal yang ia berikan dulu, saat OpenAI masih seumur jagung.
Menurut dokumen yang beredar, kontribusi Musk di masa awal OpenAI dinilai menghasilkan keuntungan antara 65,5 hingga 109,4 miliar dolar untuk perusahaan tersebut. Sementara Microsoft disebut meraup keuntungan 13,3 hingga 25,1 miliar dolar berkat hal yang sama. Klaim ini diajukan tepat sebelum persidangan kasusnya melawan kedua perusahaan digelar.
Pengacaranya, Steven Molo, bersikukuh dengan posisi kliennya.
katanya dalam pernyataan kepada Reuters.
Namun begitu, respons dari seberang sana terasa dingin. OpenAI dengan tegas menyebut tuntutan itu tidak serius, bahkan mencapnya sebagai bagian dari kampanye pelecehan Musk terhadap mereka. Microsoft, di sisi lain, memilih diam dan tidak berkomentar soal besaran kompensasi yang diminta rivalnya itu.
Kisah perseteruan ini memang berakar dari perjalanan yang berliku. Musk, yang ikut mendirikan OpenAI pada 2015, memutuskan hengkang tiga tahun kemudian. Kini ia menjalankan xAI dengan chatbot Grok. Ia menuduh OpenAI sang pengelola ChatGPT telah mengkhianati misi awalnya sebagai organisasi nirlaba setelah melakukan restrukturisasi besar menjadi entitas yang berorientasi laba.
Artikel Terkait
Menag Terbang ke Kairo, Godok Rencana Cabangkan Al-Azhar di Indonesia
Cinta Tak Tergenang Banjir: Pengantin Digendong Menuju Pelaminan
Puncak Arus Balik Libur Isra Mikraj Diprediksi Capai 197 Ribu Kendaraan
Geliat Industri 2026: 1.236 Pabrik Baru Siap Serap 218 Ribu Pekerja