Menteri AS Klaim Kapal Selamnya Tenggelamkan Kapal Perang Iran, Sri Lanka Bantah

- Kamis, 05 Maret 2026 | 10:20 WIB
Menteri AS Klaim Kapal Selamnya Tenggelamkan Kapal Perang Iran, Sri Lanka Bantah

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth membuat pernyataan yang menggemparkan. Ia mengklaim sebuah kapal selam Amerika telah menenggelamkan kapal perang Iran di Samudra Hindia. "Kapal itu merasa aman di perairan internasional, tapi justru dihantam torpedo," ujarnya tegas. Meski begitu, Hegseth enggan menyebut nama kapal yang menjadi sasaran.

Klaim ini muncul bersamaan dengan laporan dari Angkatan Laut Sri Lanka. Mereka menyatakan telah menyelamatkan 32 orang setelah menerima panggilan darurat dari kapal Iran, IRIS Dena. Menurut dokumen kapal, ada sekitar 180 orang di dalamnya. Operasi penyelamatan itu berlangsung di luar wilayah perairan Sri Lanka, namun masih dalam zona tanggung jawab pencarian dan penyelamatan mereka.

Juru bicara Angkatan Laut Sri Lanka, Budhika Sampath, menjelaskan situasi yang mereka hadapi.

"Meski berada di luar wilayah perairan kami, lokasi itu masih termasuk dalam zona pencarian dan penyelamatan kami. Jadi kami berkewajiban merespons," katanya.

Ia menambahkan, "Kami menemukan orang-orang terapung di laut, menyelamatkan mereka, dan kemudian mengetahui bahwa mereka berasal dari kapal Iran."

Yang mengerikan, saat tim penyelamat tiba, kapal besar itu sudah tak terlihat. "Kami hanya melihat beberapa sekoci. Tidak ada kapal Iran yang terlihat. Kapal itu sudah tenggelam," tutur Sampath kepada BBC Sinhala. Permukaan air hanya menyisakan serpihan minyak dan sekoci-sekoci kosong. Sekitar 140 orang lainnya dinyatakan hilang.

Namun begitu, Sampath dengan tegas membantah laporan bahwa kapal itu ditenggelamkan oleh serangan kapal selam. "Kami menolak laporan itu," tegasnya, menambahkan bahwa penyebab insiden masih diselidiki.

Kembali ke pernyataan Hegseth, nada yang digunakan terang-terangan ofensif. "Ini memang bukan pertarungan yang seimbang, dan tidak dimaksudkan sebagai pertarungan yang seimbang," katanya tanpa tedeng aling-aling. Amerika, menurutnya, sedang "menghantam Iran saat mereka sedang terpuruk." Ia juga mengancam, "Gelombang yang lebih besar akan datang. Kami baru memulainya."

Insiden di laut lepas ini adalah yang terbaru dalam rentetan ketegangan yang memanas. Semuanya berawal dari serangan AS dan Israel terhadap Iran pada Sabtu lalu. Korban jiwa di pihak Iran, menurut Bulan Sabit Merah, sudah mencapai 787 orang. Salah satu tragedi paling memilukan terjadi di sebuah sekolah perempuan di Minab, di mana lebih dari 160 orang dilaporkan tewas. Foto-foto pemakaman para korban, kebanyakan anak-anak, telah beredar luas.

Di sisi lain, ancaman dari pejabat Iran juga semakin keras. Ebrahim Jabbari, penasihat militer Garda Revolusi, memperingatkan mereka akan "membakar" kapal-kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz. "Mereka pasti akan menghadapi respons serius dari kami," gertaknya. Ancaman ini sangat serius mengingat selat itu adalah jalur vital bagi seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Sementara itu, di front lain, serangan drone dilaporkan menghantam kompleks Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi. Serangan itu disebut meruntuhkan sebagian atap dan menyebabkan kebakaran terbatas. Media AS melaporkan bahwa sebuah stasiun CIA di dalam kompleks kedutaan juga ikut terkena dampak, meski belum jelas apakah itu sasaran utama. Presiden Donald Trump sudah mengisyaratkan pembalasan "segera".

Konflik pun merembet ke Lebanon. Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran saling serang. Setelah roket Hizbullah menewaskan sembilan orang di Israel, balasan Israel di Lebanon dikabarkan menewaskan 31 orang. Israel bahkan sudah menyebarkan peringatan agar warga di lebih dari 50 desa di Lebanon selatan mengungsi. "Siapa pun yang berada di dekat anggota Hizbullah mempertaruhkan nyawanya," bunyi peringatan itu. Di Beirut, warga terbangun oleh dentuman ledakan sebelum fajar.

Kekacauan ini jelas berdampak global. Harga minyak dunia melonjak. Pangkalan militer Inggris di Siprus pun diduga menjadi sasaran serangan drone. Semuanya berubah dengan cepat, dan ancaman dari kedua belah pihak membuat situasi terasa semakin suram dan tak terprediksi. Seperti kata Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, "serangan terberat" terhadap Iran dikatakan masih akan datang. Pertanyaannya sekarang: seberapa luas dan dalam konflik ini akan berkecamuk?

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar