Setelah tiga hari berturut-turut terkapar, IHSG akhirnya bangkit juga pada Kamis pagi (5/3/2026). Pergerakannya masih terlihat volatil, tapi setidaknya ada secercah warna hijau di papan pencatatan. Ini tentu jadi angin segar setelah tekanan hebat sehari sebelumnya, di mana indeks anjlok 4,57 persen. Sentimen buruk datang dari mana-mana, mulai dari eskalasi konflik AS-Israel di Iran hingga peringatan dari Fitch Ratings soal outlook Indonesia.
Nah, pada pukul 09.58 WIB, data BEI menunjukkan IHSG menguat 1,80 persen ke level 7.713,76. Transaksi tercatat Rp6,06 triliun dengan volume perdagangan mencapai 10,58 miliar saham. Mayoritas saham, tepatnya 618 kode, bergerak naik. Hanya 109 yang melemah, sementara 231 lainnya diam di tempat. Penguatan ini ditopang kuat oleh saham-saham big cap, terutama dari sektor tambang dan perbankan raksasa.
Pengamat pasar modal Michael Yeoh melihat momen ini dari kacamata teknikal. Menurutnya, posisi IHSG saat ini cukup krusial.
“IHSG berada dalam posisi teknikal yang paling penting yaitu di angka 7.482, sebagai titik terendah dari koreksi akibat peringatan MSCI kemarin,” jelasnya.
“Rebound hari ini terjadi masih dengan volume rendah per pukul 09:18, menandakan bahwa ini adalah sebatas technical rebound yang terlihat dari indikator oversold.”
Dia menambahkan, penguatan tersebut juga tidak berdiri sendiri karena sejalan dengan pergerakan bursa regional.
Artikel Terkait
IHSG Melonjak 2,14% di Awal Perdagangan, Seluruh Sektor Berbalik Hijau
Reli Saham Asia Dipicu Sinyal Redupnya Ketegangan AS-Iran
Pemerintah Pastikan Stok Pangan dan Energi Aman Menjelang Lebaran 2026
Harga Emas Bangkit Lebih dari 1% Didorong Ketegangan Timur Tengah dan Pelemahan Dolar