Operasi militer besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat ke Venezuela akhirnya berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Ia bersama istrinya kini telah diboyong ke New York untuk menghadapi proses pengadilan. Langkah dramatis ini langsung diikuti pengumuman lain yang tak kalah mengguncang: pemerintah AS menyatakan akan mengambil alih sementara kendali pemerintahan di Caracas.
Menurut pernyataan resmi, Maduro ditangkap setelah serangan yang menargetkan fasilitas-fasilitas strategis negara itu. Dia langsung diterbangkan ke AS untuk menjawab berbagai dakwaan hukum yang sudah lama menunggunya.
Presiden Donald Trump dengan tegas menjelaskan posisi Washington. Amerika, katanya, akan memegang tampuk pemerintahan Venezuela sampai suatu transisi kekuasaan yang aman dan terkontrol benar-benar terwujud. Tujuannya jelas: mencegah negara itu kembali jatuh ke dalam kekacauan politik dan ekonomi seperti sebelumnya.
Trump bahkan tak segan mengancam akan menggunakan kekuatan lebih besar. Situasi di lapangan, menurutnya, masih sangat cair.
Namun begitu, langkah agresif AS ini tentu saja ditolak mentah-mentah oleh pemerintah Venezuela yang masih loyal kepada Maduro. Wakil Presiden Delcy Rodriguez dengan lantang menyuarakan protes. Dia menolak segala legitimasi penangkapan itu dan menuntut pembebasan segera atas presiden dan istrinya.
Artikel Terkait
Prabowo Disambut Kawanan Elang Muda TNI AU dalam Penerbangan ke Magelang
Dishub DKI Berlakukan Rekayasa Lalu Lintas untuk Lebaran Betawi 2026 di Lapangan Banteng
ADB Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Capai 5,2% pada 2026-2027
Trump Tuduh Iran Langgar Kesepakatan Damai di Selat Hormuz