Pemerintah punya rencana baru buat ngurangin kecelakaan saat arus mudik nanti. Intinya, mereka mau manfaatkan masjid. Tak tanggung-tanggung, Kementerian Agama sedang menyiapkan hampir 7.000 masjid di seluruh Indonesia buat jadi tempat singgah gratis bagi para pemudik yang kelelahan di jalan.
Rencananya, program ini bakal jalan mulai tujuh hari sebelum Lebaran sampai tujuh hari sesudahnya. Jadi, selama puncak arus balik pun, tempat-tempat ini tetap buka. Yang penting, masjid-masjid yang berada di jalur mudik utama akan beroperasi 24 jam non-stop.
“Koordinasi internal juga dilakukan dalam rangka kesiapan masjid dari tingkat pusat hingga Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan,” ujar Menag.
Gagasan ini muncul setelah Menteri Agama bertemu dengan Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, di Jakarta awal pekan ini. Pertemuan itu intinya buat nguatin kerja sama antar kementerian, biar mudik tahun depan bisa lebih aman dan nyaman buat semua orang.
Lalu, fasilitas apa saja yang disiapkan? Nggak cuma sekadar tempat duduk. Pengelola masjid diharapkan menyediakan ruang istirahat yang layak, toilet bersih, tentu saja air wudhu, dan air minum. Buat yang bawa bayi, diupayakan ada ruang laktasi. Pengisian daya ponsel gratis juga disediakan, plus area parkir yang aman dan yang pasti, tanpa dipungut biaya sepeser pun.
Menag juga berharap lebih. Bagi pemudik yang masih menjalankan puasa Ramadan, masjid bisa menyediakan takjil. Nah, buat yang nyetir malam hari, pengelola diimbau nyiapin minuman hangat. Tujuannya sederhana: memulihkan stamina sebelum kembali melanjutkan perjalanan yang melelahkan.
“Beristirahat sejenak bisa menyelamatkan nyawa, mencegah musibah karena kalau. Supirnya, ngantuk, dan nanti nabrak, kecelakaan banyak bisa terjadi,” tegas Menag.
Peringatannya nggak berlebihan. Penggunaan kendaraan pribadi, terutama di jalur-jalur macam Pantura, Trans Jawa, dan Trans Sumatera, selalu tinggi. Kelelahan pengemudi jadi salah satu pemicu kecelakaan yang paling sering terjadi. Karena itulah, peran masjid jadi strategis banget. Dia bukan cuma tempat ibadah, tapi juga ruang pelayanan publik yang bisa jadi penyelamat.
Di sisi lain, biar mudah dikenali, masjid yang ikut program ini akan diberi penanda khusus di jalur utama. Jadi pemudik nggak perlu ragu-ragu buat mampir.
Menariknya, program ini nggak eksklusif. Menurut Menag, rumah ibadah lain juga akan dilibatkan di sejumlah daerah. Misalnya gereja di wilayah Sumatera Utara dan kawasan Indonesia Timur. Pendekatan ini jelas mau nunjukkin bahwa rumah ibadah itu sejatinya ruang kemanusiaan yang terbuka untuk siapa saja, tanpa pandang bulu.
“Adanya program ini, dapat meniru masjid nabi, masjid juga menerima tamu baik muslim dan non muslim, jangan ada diskriminasi. Masjid harus jadi rumah besar kemanusiaan, dan sebagai strategi yang membantu kesuksesan manajemen mudik Lebaran,” kata Menag.
Rencana ini sejalan dengan persiapan besar-besaran Kemenhub. Mereka memproyeksikan bakal ada sekitar 143 juta pemudik tahun depan. Jadi, sinkronisasi data antara Kemenag dan Kemenhub itu penting banget. Biar nggak tumpang-tindih di lapangan, dan semua bisa berjalan sinergis.
Pada akhirnya, ini soal keselamatan bersama. Menyediakan tempat singgah yang manusiawi di tengah perjalanan panjang, bisa jadi pembeda antara selamat sampai tujuan atau malah celaka di jalan.
Artikel Terkait
Masjid di Tepi Barat Dibakar Pemukim Israel di Bulan Ramadan
Polisi Tangkap Dua dari Empat Pelaku Curanmor Bersenjata Viral di Grogol
Utusan Trump Temui Reza Pahlavi, Isyarat Perubahan Sikap AS terhadap Rezim Iran
Trump Tolak Putusan MA, Klaim Tak Perlu Izin Kongres untuk Terapkan Tarif