Harga batu bara global memang sedang normalisasi. Tapi, jangan salah, fundamental PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dinilai tetap solid dan berkelanjutan. Analis dari Phintraco Sekuritas, Kamis lalu, justru melihat peluang di balik situasi ini.
Katalis utamanya? Proyek infrastruktur logistik yang sedang digarap perseroan. Menurut mereka, inilah yang bakal mendongkrak efisiensi biaya dan menguatkan kinerja PTBA untuk jangka menengah ke depan.
Sebagai raksasa batu bara di Indonesia, PTBA menguasai Izin Usaha Pertambangan (IUP) seluas lebih dari 65 ribu hektare di Sumatera Selatan. Produksinya mencakup batu bara termal peringkat rendah hingga menengah, dari lignit sampai sub-bituminous. Nilai kalornya beragam, antara 2.800 sampai 6.100 kcal/kg GAR, dengan keunggulan kandungan abu dan sulfur yang relatif rendah. Produk-produk ini mayoritas diserap oleh PLTU dan pelanggan industri.
Namun begitu, bisnis PTBA tak cuma menggali di dalam tanah. Mereka punya lini usaha terintegrasi yang cukup lengkap. Mulai dari logistik kereta api dan truk, pengelolaan pelabuhan, fasilitas penanganan batu bara, hingga pembangkit listrik baik berbasis uap (PLTU) maupun tenaga surya (PLTS) yang tersebar di berbagai daerah.
Yang paling disorot Phintraco adalah proyek jalur kereta api Tanjung Enim-Keramasan. Proyek sepanjang 158 kilometer ini ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal II-2026. Per September tahun lalu, progres konstruksinya sudah mencapai 58 persen. Bayangkan, jalur baru ini nantinya bisa mengangkut hingga 20 juta ton per tahun.
Tak berhenti di situ, PTBA juga melakukan peningkatan kapasitas pelabuhan pendukung. Kapasitas Pelabuhan Tarahan dinaikkan sedikit dari 27,5 juta ton menjadi 28,0 juta ton per tahun. Sementara Pelabuhan Kertapati naik dari 8,0 juta ton menjadi 8,5 juta ton per tahun. Semua ini dijalankan lewat kolaborasi dengan PT KAI dan PT KALOG.
Integrasi ini jelas punya dampak besar. Jarak angkut yang lebih pendek dan waktu pengiriman yang lebih optimal akan memangkas biaya transportasi secara signifikan. Alhasil, biaya logistik per ton berpotensi turun dan struktur biaya perusahaan jadi lebih kompetitif. Itulah yang diharapkan bisa menjaga ketahanan PTBA dalam jangka panjang.
Lalu, bagaimana kinerja keuangannya? Di sembilan bulan pertama 2025, pendapatan PTBA tercatat Rp31,33 triliun, tumbuh tipis 2 persen year-on-year. Pertumbuhan ini ditopang kenaikan volume penjualan sebesar 8 persen menjadi 33,70 juta ton. Meski begitu, harga jual rata-ratanya merosot 6 persen ke level Rp0,91 juta per ton, ikut terdampak pelemahan harga global.
Di sisi lain, produksi batu bara naik 9 persen. Volume angkutan juga ikut naik 8 persen. Yang menarik, ada lonjakan signifikan pada volume transportasi non-KAI, yang menunjukkan fleksibilitas distribusi perseroan semakin baik.
Tapi, tekanan tetap ada. Laba bersih PTBA anjlok 57 persen menjadi Rp1,4 triliun pada periode yang sama. Kombinasi harga batu bara yang melemah dan kenaikan biaya bahan bakar jadi penyebab utamanya.
Ke depannya, Phintraco memproyeksikan pendapatan PTBA relatif stabil. Di 2025 diperkirakan sekitar Rp42,9 triliun, lalu sedikit melandai ke Rp42,0 triliun pada 2026, sebelum kembali tumbuh 4 persen di 2027 menjadi Rp43,6 triliun. Proyeksi ini menggambarkan ketahanan fundamental perusahaan meski harga batu bara tak lagi sepanas dulu.
Berdasarkan analisis discounted cash flow (DCF), Phintraco Sekuritas kembali menegaskan rekomendasi BUY untuk saham PTBA. Target harganya Rp2.800 per saham, dengan nilai enterprise value sekitar Rp32,3 triliun. Mereka menilai valuasi ini menarik, mengingat prospek efisiensi biaya dan keberlanjutan kinerja yang cukup jelas.
“Dengan proyek logistik baru yang segera beroperasi, PTBA berpotensi menikmati penurunan biaya transportasi yang signifikan dan peningkatan efisiensi operasional, sehingga memperkuat daya saing di tengah dinamika industri batu bara global,” tulis Phintraco Sekuritas.
Jadi, meski laba terkoreksi sementara, masa depannya masih cerah. Setidaknya, itulah yang diyakini oleh analis.
Artikel Terkait
Petinggi BCA Borong Saham Sendiri di Tengah Tekanan Jual
IMF Peringatkan Utang AS Capai 125% PDB, Butuh Penyesuaian Fiskal Terbesar
Cerebras Systems Ajukan IPO di Nasdaq Didukung Komitmen Besar OpenAI
Harga Minyak Sawit Malaysia Melemah, Dihantam Permintaan Lesu dan Anjloknya Harga Minyak Dunia