Swadaya Gula 2028: BUMN Gula dan Beban Sejarah yang Harus Dipikul

- Senin, 19 Januari 2026 | 10:48 WIB
Swadaya Gula 2028: BUMN Gula dan Beban Sejarah yang Harus Dipikul

Belum lagi soal teknologi. Usia pabrik banyak yang sudah uzur, ada yang bahkan ratusan tahun. Biaya produksi membengkak, rendemen rendah, dan sangat bergantung pada musim. Upaya revitalisasi sudah dilakukan, tapi masih setengah-setengah.

Modernisasi teknologi memang mahal. Tapi soal utamanya seringkali bukan cuma di mesin, melainkan di pasokan bahan baku. Produktivitas tebu yang rendah bikin pasokan tak stabil, jam produksi terbuang, dan harga pokok melambung. Ketertinggalan ini adalah buah dari pembiaran puluhan tahun.

Dengan latar belakang serumit itu, kini BUMN gula dapat tugas baru sebagai lokomotif swasembada. Beban mereka ganda: memperbaiki sistem produksi sekaligus menyejahterakan petani.

Namun begitu, penugasan negara seringkali cuma berorientasi target. Padahal, membangun ekosistem yang kokoh butuh waktu yang tak sebentar. Ambil contoh program bongkar ratoon, dampaknya baru terasa tahun depan. Di sinilah ketegangan muncul: antara logika negara yang mengejar target dan logika korporasi yang bekerja dalam siklus alamiah.

Maka, perubahan desain kelembagaan jadi krusial. Sejak 2021, lewat restrukturisasi, pabrik-pabrik gula dipisah dari PTPN dan dikonsolidasi ke dalam PT SGN. Tapi secara efektif, bentuk organisasi yang utuh dan operasional penuh baru tercapai tahun 2024 ini. Itupun dengan beban tambahan: mengelola kegiatan on farm yang sebelumnya tersebar.

Sebagai perusahaan di bawah Danantara, PT SGN tentu harus menjalankan mandatnya mengejar swasembada. Tapi dalam perjalanannya, kita semua perlu ingat. Masalah gula nasional bukan cuma soal salah urus manajemen. Ini masalah struktural yang sudah mengakar.

Karena itu, BUMN gula tidak boleh cuma diposisikan sebagai operator. Mereka harus jadi aktor transformasi. Dan peran ini mustahil dijalankan sendirian. Diperlukan pembenahan bersama, menyeluruh, atas kebijakan yang kerap tumpang tindih, struktur agraria yang timpang, dan relasi sosial produksi yang telah membentuk wajah industri gula kita selama ini.


Halaman:

Komentar