Di sisi lain, Ustaz Adi juga menyentuh soal rasa malu sebuah perasaan yang seringkali tumpul di hati para pelaku kejahatan. Bagaimana mungkin, seseorang bisa berbohong dan curang seharian, lalu menghadap Allah dalam salat seolah tak terjadi apa-apa? Ia menekankan, salat seharusnya menjadi pengingat moral yang kuat. Pengingat untuk menjaga lisan, tangan, dan seluruh perbuatan agar tetap bersih.
Bayangkan dampaknya jika ini diterapkan secara luas. Itu yang ia coba gambarkan selanjutnya. Menurut Ustaz Adi, efeknya akan seperti domino. Kalau semua elemen masyarakat punya dasar salat yang benar, mulai dari pejabat di pemerintahan, ulama, para guru, sampai anak-anak di rumah, maka hasilnya akan luar biasa.
“Kalau semuanya salatnya benar, pejabatnya benar, ustaznya benar, kiainya benar, gurunya benar, anaknya benar, dampak lebih luasnya semua jadi orang baik,” tuturnya.
Ia lalu menutup dengan kalimat yang cukup menyentak. Sebuah sindiran halus untuk kondisi saat ini.
“Jadi kita tidak kekurangan orang pintar, tetapi kita kehilangan orang baik.”
Poin terakhir itu rasanya yang paling mengena. Di tengah gemerlap kompetisi dan kecerdasan, kebaikan yang tulus seringkali justru jadi barang langka.
Artikel Terkait
DPR Buka Suara Publik untuk Revisi UU Pemilu, Pilpres Tetap Langsung
Menhub Tinjau Langsung Pencarian di Lereng Bulusaraung, Harap Ada Keajaiban
Eggi Sujana dan Rudi Kamri: Dua Wajah Perburuan Keadilan yang Berbeda
Kilang Balikpapan dan Klaim Penghematan Rp 60 Triliun: Antara Optimisme dan Keraguan