Mengelola Tantrum Anak: Strategi Praktis dari Pengalaman Orang Tua
REDAKSI - Ledakan emosi atau tantrum pada anak usia 1-3 tahun merupakan fenomena perkembangan yang wajar. Situasi ini seringkali memicu kepanikan orang tua, terutama ketika terjadi di tempat umum.
Memahami Akar Masalah Tantrum
Para ahli perkembangan anak menyebutkan bahwa tantrum muncul sebagai bentuk ketidakmampuan anak dalam mengekspresikan kebutuhan dan emosi secara tepat. Ledakan emosi ini biasanya dipicu oleh berbagai faktor seperti rasa lapar, kelelahan, kebutuhan akan perhatian, atau frustrasi terhadap situasi tertentu.
Strategi Efektif Menghadapi Tantrum
"Langkah pertama yang saya lakukan adalah mengidentifikasi penyebab tantrum. Dengan memahami akar masalahnya, saya bisa memberikan solusi yang tepat untuk buah hati."
- Mom Rere (25), Ibu dari satu anak
Mom Rere menekankan pentingnya observasi terhadap kondisi anak. Ia biasanya memeriksa apakah anaknya mengalami kelaparan, mengantuk, atau sekadar merasa tidak nyaman. Penyediaan camilan seringkali menjadi solusi awal yang efektif.
Ketika anak tidak langsung tenang meski telah diberi solusi, Mom Rere menerapkan strategi membawa anak ke tempat yang lebih sepi. Ia memberikan ruang bagi anak untuk meredakan emosinya secara alami sebelum melakukan pendekatan lebih lanjut.
"Setelah anak tenang, saya membantu menguraikan emosi yang dirasakan sambil menjelaskan batasan dalam meluapkan perasaan."
- Mom Rere
Pendekatan Fisik dan Emosional
"Saya memberikan pelukan, belaian, atau sentuhan fisik lainnya agar anak tidak merasa sendirian dalam menghadapi emosinya."
- Mom Wina (28), Ibu bekerja
Mom Wina membagikan pengalamannya bahwa sentuhan fisik bisa menjadi alat penenang yang efektif. Namun ia juga mengingatkan bahwa terkadang respons anak bisa bervariasi. Kunci utamanya adalah menjaga ketenangan diri sebagai orang tua.
"Ketika orang tua ikut terbawa emosi, anak justru bisa semakin frustrasi," tegas Mom Wina.
Memberikan Ruang dan Waktu
"Saya memberikan waktu bagi anak untuk menenangkan diri dengan mengatakan 'kalau sudah siap ngomong, bilang mama'."
- Mom Yasmin (32), Ibu dari dua anak
Mom Yasmin menekankan pentingnya memberikan ruang bagi anak tanpa meninggalkannya. Pendekatan sederhana ini terbukti efektif dalam membangun regulasi emosi mandiri pada anak.
Pendekatan Pasca-Tantrum
Setelah situasi reda, ketiga ibu sepakat tentang pentingnya komunikasi untuk memberikan pemahaman. Mom Wina biasanya memberikan camilan atau minuman kesukaan anak sebelum mengajak berdiskusi, sambil menyampaikan ekspektasi untuk komunikasi yang lebih baik di masa depan.
Mom Yasmin menambahkan, "Prinsip saya, marah itu boleh tapi tidak boleh disertai tindakan merusak. Anak perlu memahami batasan ini sejak dini."
KESIMPULAN: Menghadapi tantrum membutuhkan kombinasi kesabaran, pemahaman, dan konsistensi. Dengan pendekatan yang tepat, momen tantrum bisa menjadi kesempatan berharga untuk mengajarkan regulasi emosi pada anak.
Artikel Terkait
Tips Atur Pola Tidur dan Asupan Makanan untuk Jaga Kebugaran Selama Ramadan
Ahli Ingatkan Risiko Kalori Tinggi di Balik Tren Kurma Keju Saat Berbuka
Awkarin Sindir Balik Geng Reza Arap Usai Dikaitkan dengan Sindiran Fisik
Jam Kerja Dipangkas Selama Ramadan, Aturan Berbeda di Indonesia dan Timur Tengah