Ledakan Pipa Gas di Riau Picu Krisis, Produksi Minyak Blok Rokan Anjlok Drastis
Suasana mencekam masih menyelimuti Desa Batu Ampar di Indragiri Hilir, Riau. Ledakan keras yang mengguncang kawasan itu pada Jumat sore, 2 Januari lalu, ternyata bukan cuma soal kobaran api dan kepanikan warga. Dampaknya merembet jauh lebih dalam, hingga mengancam pasokan energi nasional. Produksi minyak di Blok Rokan, salah satu penyangga utama lifting minyak Indonesia, terpukul berat.
Yusri Usman, Direktur Eksekutif CERI, membenarkan kabar buruk ini. Menurut data yang dia peroleh, produksi harian Blok Rokan anjlok parah.
“Hari ini produksinya cuma tinggal sekitar 30 ribu barel,” ujar Yusri, Senin (6/1).
Angka itu sangat jauh dari kapasitas normal yang seharusnya mencapai 165 ribu barel per hari. Artinya, ada penurunan drastis sekitar 120 ribu barel. Penyebabnya berawal dari ledakan pipa milik PT Trans Gas Indonesia (TGI) itu sendiri.
“Ledakan itu memutus suplai gas dari Jambi Merang ke pembangkit listrik PLTGU MCTN di Blok Rokan. Listrik dan uap untuk operasional produksi minyak jadi terhenti. PLTGU yang dioperasikan anak usaha PLN itu mati total,” jelasnya.
Masalahnya tidak berhenti di situ. Yusri memperingatkan risiko lain yang mengintai jika kondisi ini dibiarkan berlarut.
“Minyak berat di dalam pipa berpotensi membeku atau congeal. Kalau sudah begitu, pemulihannya akan lebih rumit dan butuh waktu lama,” lanjutnya.
Insiden yang terjadi sekitar pukul empat sore itu memang dahsyat. Api membubung tinggi dengan radius mencapai 300 hingga 500 meter. Bukan cuma pipa gas yang hancur, tapi juga kehidupan warga di sekitarnya. Sepuluh orang dilaporkan menjadi korban luka-luka, enam di antaranya mengalami luka bakar serius. Empat lainnya cedera ringan karena terjatuh saat berusaha menyelamatkan diri.
Kapolres Inhil, AKBP Farouk Oktora, memberikan konfirmasi soal korban.
“Semua korban sudah ditangani. Enam orang luka bakar, sisanya luka ringan karena terjatuh saat situasi panik,” kata Farouk.
Dampak kerusakan fisik juga luas. Lima unit truk dan lima sepeda motor hangus dilalap api. Tiga bangunan usaha warga sebuah bengkel ban, tempat cuci motor, dan penampungan buah sawit ikut rata dengan tanah. Jalan lintas provinsi yang menjadi urat nadi penghubung Riau dan Jambi pun terpaksa ditutup total, memutus akses transportasi.
Karo Ops Polda Riau, Kombes Pol Ino Harianto, yang langsung turun ke lokasi, menggambarkan situasi saat itu.
“Langkah pertama kami evakuasi warga dan imbau mereka menjauh. Jalan kami tutup untuk antisipasi, mengingat ini jalur vital,” tegas Ino.
Saat api sudah padam dan asap mulai menghilang, proses penyelidikan segera dimulai. Tim gabungan dari Laboratorium Forensik dan unit teknis dikerahkan untuk mengolah TKP. “Penyebab pastinya masih kami selidiki,” ungkap Ino. Sementara itu, untuk menangani warga yang terdampak, posko tanggap darurat segera didirikan.
“Kami buka posko untuk bantu masyarakat yang rumah atau usahanya terbakar. Ini bencana non-alam, tapi prinsip kami sama: polisi harus hadir di tengah masyarakat yang kena musibah,” pungkasnya.
Posko itu menjadi titik kumpul bantuan, melibatkan BPBD, pemadam kebakaran, hingga puskesmas. Di balik upaya pemulihan itu, satu persoalan besar masih menggantung: kapan Blok Rokan bisa kembali berdenyut normal, dan berapa kerugian negara yang harus ditanggung akibat satu ledakan yang merusak segalanya.
Artikel Terkait
AC Milan Tersungkur di San Siro, Kalah 0-1 dari Parma
Pakar Hukum Soroti Daya Paksa dan Krisis Kepercayaan Publik pada Aparat
Jadwal Imsak dan Subuh Medan 23 Februari 2026: Imsak Pukul 05.12 WIB
Imsak Yogyarta Pukul 04.16 WIB, Ulama Ingatkan Keberkahan Sahur dan Kuatkan Niat