Andhara Early Buka Suara: Frekuensi Kami Beda, Tak Ada Gono-Gini

- Selasa, 06 Januari 2026 | 16:15 WIB
Andhara Early Buka Suara: Frekuensi Kami Beda, Tak Ada Gono-Gini

Setelah lama memilih diam, Andhara Early akhirnya angkat bicara. Perceraiannya dengan Bugi Ramadhana sudah berkekuatan hukum tetap, dan kini ia bersedia menjelaskan banyak hal yang jadi pertanyaan publik. Mulai dari urusan hak asuh anak, nafkah, sampai alasan sebenarnya rumah tangga mereka harus berakhir.

Hal pertama yang ia tegaskan: tak ada proses bagi-bagi harta atau gono-gini. “Enggak ada harta gono-gininya,” ujar Andhara, dengan nada datar. Rupanya, dari awal ia memang tak memasukkan persoalan harta dalam gugatan cerainya.

Lalu bagaimana dengan anak? Soal ini, Andhara terlihat lebih lega. Pengadilan memutuskan hak asuh berada di tangannya, terutama untuk anak yang masih di bawah umur. “Hak asuh anak masuk ke gue,” jelasnya singkat.

Di sisi lain, kewajiban nafkah tetap dibebankan kepada Bugi. Menurut Andhara, sampai saat ini mantan suaminya itu masih menjalankan kewajibannya. Ia enggan merinci angka pastinya, tapi mengaku cukup puas dengan keputusan yang ada. “Setidaknya ada usaha yang mau dilakukan,” ungkapnya, bersyukur.

Nah, yang paling banyak dispekulasikan orang tentu penyebab perceraian. Apakah faktor ekonomi? Andhara menjawab dengan hati-hati. Bukan, ekonomi bukan akar masalahnya.

Menurutnya, alasan utamanya lebih dalam dari itu: perbedaan. Perbedaan yang sudah terlalu banyak dan lebar, sampai-sampai ia menggambarkan hubungan mereka seperti dua radio yang disetel ke frekuensi berbeda. “Frekuensinya beda aja kita berdua,” katanya.

Bayangkan saja, dua orang dalam satu mobil ingin mendengarkan stasiun yang berbeda. Pasti ribut. “Kalau frekuensinya beda ya memang susah,” tambahnya, mencoba merangkum semua ketidakcocokan itu dalam satu analogi.

Meski berpisah, komunikasi mereka ternyata tidak terputus sama sekali. Andhara menyebut, sampai sekarang mereka masih bisa bicara dengan lancar. Bugi bahkan masih sering datang ke rumahnya, untuk menjemput atau mengantar anak. Dinamika itu berjalan, katanya, cukup baik.

Diceritakan juga, Bugi sempat ingin rujuk. Namun, usaha yang dilakukan sang mantan suami itu tak sesuai dengan harapannya. “Tidak seperti yang gue ekspektasikan,” ucap Andhara, tanpa mau memperpanjang cerita.

Lantas, apakah masih ada rasa sayang? Ia mengakui, mustahil perasaan itu hilang begitu saja. Apalagi, mereka masih terhubung sebagai orang tua dari anak-anak yang sama. “Sayang pasti,” tuturnya.

Tapi ia dengan tegas membedakan antara sayang dan cinta. Cinta, baginya, tak bisa dipaksakan. Semua ia serahkan pada takdir. “Kalau memang masih berjodoh, pasti ada jalannya,” ujarnya, filosofis.

Ke depan, apakah hati sudah siap untuk orang baru? Andhara menggeleng. Setelah 14 tahun menikah, yang ia butuhkan sekarang adalah waktu untuk dirinya sendiri. “Gue harus masih istirahat dulu,” tutupnya.

Proses penyembuhan emosionalnya masih berlangsung, tapi Andhara merasa kondisinya perlahan membaik. Harapannya satu: bisa melangkah ke depan dengan lebih sehat, baik secara mental maupun emosional.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar