Ustaz Adi Hidayat: Pejabat yang Khusyuk Salatnya Takkan Berani Korupsi

- Senin, 19 Januari 2026 | 09:50 WIB
Ustaz Adi Hidayat: Pejabat yang Khusyuk Salatnya Takkan Berani Korupsi
Artikel Ustaz Adi Hidayat

Ustaz Adi Hidayat: Pejabat yang Salatnya Benar Takkan Korupsi

Jakarta Ustaz Adi Hidayat punya pandangan tegas. Menurut penceramah ternama itu, seorang pejabat yang melaksanakan salat dengan benar dan khusyuk, kecil kemungkinannya akan terjerumus dalam korupsi atau tindakan mungkar lainnya. Logikanya sederhana tapi dalam.

Salat, bagi Ustaz Adi, bukan sekadar ritual. Ia meyakini ibadah yang dilakukan dengan tepat akan membentuk akhlak seseorang dari dalam. Jadi, ia berfungsi sebagai penangkal alami terhadap segala bentuk keburukan yang biasanya muncul dari hawa nafsu. Mulai dari mencuri, menipu, sampai yang paling kompleks: korupsi.

“Kalau pejabatnya salatnya benar pasti bagus, karena tidak akan mungkar,” ujarnya.

Lalu ia menggambarkan sebuah kontras yang tajam. “Masa tangan yang biasa tahiyat dipakai untuk maksiat? Setelah korupsi lalu tangannya digunakan untuk takbir, apa itu tidak malu kepada Allah?”

Pernyataan itu disampaikannya dalam sebuah kajian Musawarah, seperti dikutip Suara Islam awal pekan ini.

Di sisi lain, Ustaz Adi juga menyentuh soal rasa malu sebuah perasaan yang seringkali tumpul di hati para pelaku kejahatan. Bagaimana mungkin, seseorang bisa berbohong dan curang seharian, lalu menghadap Allah dalam salat seolah tak terjadi apa-apa? Ia menekankan, salat seharusnya menjadi pengingat moral yang kuat. Pengingat untuk menjaga lisan, tangan, dan seluruh perbuatan agar tetap bersih.

Bayangkan dampaknya jika ini diterapkan secara luas. Itu yang ia coba gambarkan selanjutnya. Menurut Ustaz Adi, efeknya akan seperti domino. Kalau semua elemen masyarakat punya dasar salat yang benar, mulai dari pejabat di pemerintahan, ulama, para guru, sampai anak-anak di rumah, maka hasilnya akan luar biasa.

“Kalau semuanya salatnya benar, pejabatnya benar, ustaznya benar, kiainya benar, gurunya benar, anaknya benar, dampak lebih luasnya semua jadi orang baik,” tuturnya.

Ia lalu menutup dengan kalimat yang cukup menyentak. Sebuah sindiran halus untuk kondisi saat ini.

“Jadi kita tidak kekurangan orang pintar, tetapi kita kehilangan orang baik.”

Poin terakhir itu rasanya yang paling mengena. Di tengah gemerlap kompetisi dan kecerdasan, kebaikan yang tulus seringkali justru jadi barang langka.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar