MURIANETWORK.COM – Alarm peringatan itu dibunyikan Titi Anggraini, dosen UI. Dalam sebuah diskusi ILT, Jumat (16/1), ia mengingatkan publik tentang satu ciri rezim otoriter: membatasi jabatan publik yang bisa dipilih langsung oleh rakyat. Ia merujuk pada penelitian Andreas Schedler tahun 2002 soal 'menu manipulasi' yang kerap dipraktikkan penguasa otoriter.
"Schedler menulis tentang 'menu of manipulation' pemimpin otoriter. Salah satu cirinya adalah melimitasi jabatan publik yang bisa dipilih rakyat," ungkap Titi.
Ia lantas melanjutkan, "Ini yang mengkhawatirkan ketika publik makin dijauhkan dengan narasi bahwa masyarakat tidak mampu men-deliver hak politiknya secara langsung."
Menurutnya, Schedler merinci sembilan ciri dalam menu manipulasi itu. Di antaranya, pemilu cuma jadi alat legitimasi, bukan akuntabilitas. Lalu, ada pembatasan kekuasaan pejabat terpilih, rekayasa arena kompetisi, dan upaya sistematis memecah-belah oposisi. Tak ketinggalan, penekanan kebebasan sipil yang selektif, pengendalian informasi lewat media, serta politik uang yang merusak hak pilih masyarakat meski secara formal masih diakui.
"Semoga kita tidak jadi bagian dari itu," tegas Titi. "Alarm sudah bunyi dengan narasi-narasi yang melimitasi akses publik pada jabatan yang bisa dipilih rakyat."
Artikel Terkait
Chelsea Tumbangkan Wrexham 4-2 dalam Laga Sengit Perempat Final Piala FA
FC Groningen Kalahkan Ajax Amsterdam 3-1 dalam Kejutan Eredivisie
Imbang 3-3, PSM Makassar Tersendat di Posisi 13 Liga 1
Malut United dan PSM Makassar Bermain Imbang 3-3 dalam Drama Penuh VAR