Dengan status itu, angkatan bersenjata akan turun tangan membantu upaya pemadaman. Ini menunjukkan betapa seriusnya ancaman yang dihadapi.
Di sisi lain, proses evakuasi warga terus digenjot. Alicia Cebrian, direktur Layanan Nasional untuk Pencegahan dan Penanggulangan Bencana, menyebut sebagian besar pengungsian terkonsentrasi di kota-kota Biobio, Penco, dan Lirquen. Ketiga kota itu dihuni sekitar 60.000 orang. Mereka terpaksa meninggalkan rumah demi keselamatan.
Gambaran dahsyatnya bencana ini terlihat jelas dari siaran televisi lokal. Layar dipenuhi gambar api membakar habis pemukiman. Mobil-mobil hangus teronggok di jalanan, jadi saksi bisu keganasan si jago merah.
Ini bukan kali pertama Chili berduka. Wilayah selatan-tengah negara itu memang kerap jadi langganan kebakaran hutan parah dalam beberapa tahun belakangan. Ingatan masih segar tentang tragedi Februari 2024 lalu, di dekat Vina del Mar. Saat itu, serangkaian kebakaran hampir bersamaan menewaskan 138 orang dan mengusir 16.000 warga dari tempat tinggal mereka.
Kini, sejarah kelam itu seolah terulang. Semoga upaya gabungan pemerintah dan para relawan bisa segera meredakan bencana ini.
Artikel Terkait
Kompolnas Pastikan Remaja Tewas di Makassar Akibat Tembakan Polisi
Pagar Proyek Sekolah Rakyat di Takalar Roboh, Diduga Akibat Pondasi Lemah
Pemerintah Buka Pendaftaran Tiket Kapal Gratis untuk Mudik Lebaran 2026
Istri Kasat Narkoba Toraja Utara Mohon Maaf dan Keringanan Hukuman di Sidang Etik