Eggy Sudjana dan JKW: Sebuah Pertemuan yang Mengubah Segalanya

- Senin, 19 Januari 2026 | 07:40 WIB
Eggy Sudjana dan JKW: Sebuah Pertemuan yang Mengubah Segalanya

✍🏻 Rudy Razi

Saya sudah kenal Bang Eggy sejak lama, waktu masih SMA dan aktif di Pelajar Islam Indonesia. Dulu, di beberapa training dan acara PII, beliau yang sering ngisi materi. Kala itu, Bang Eggy masih mahasiswa dan getol di GPII.

Kemudian kami bertemu lagi di berbagai momen besar. Mulai dari Pilpres 2014, aksi 212, sampai Pilkada Jakarta. Jadi, ya, sejarah pertemanan kami cukup panjang.

Nah, soal kunjungannya baru-baru ini menemui JKW, bagi saya itu sudah jelas banget. Ia seperti bertekuk lutut di bawah ruas kelingking JKW. Tak perlu berbelit-belit dengan teori atau argumen yang njlimet.

Ada yang coba menyamakan dengan kunjungan Ustaz Abu Bakar Ba'asyir? Menurut saya, konteksnya jauh berbeda.

Sehari setelah Ustaz ABB bertemu JKW, saya dapat info valid langsung dari kerabat dekat beliau. Beliau datang atas inisiatif sendiri, murni untuk menasihati Jikiwir. Lagi pula, beliau tak sedang ada kasus dengan orang itu. Info ini saya dapat langsung dari Ngruki, bukan sekadar katanya-katanya, tapi dari sumber A1 beliau.

Jadi, tak usah banyak dalih! Apalagi alasan "strategi". Aaagrhgrh… strategi… strategi!!! Dulu kan sudah ada contoh orang gemoy yang beralasan serupa, dan lihatlah faktanya sekarang?!

Kalaupun itu strategi, modelnya bukan begitu caranya! Bukan namanya strategi kalau kita berenang di kolam yang sama dengan penjahat.

Soalnya, antara haq dan bathil takkan pernah bisa nyatu. Sibghatullah tidak akan berbaur dengan Sibghath-thaghut. Ada konsep wala' wal bara', ada furqan yang memisahkan.

Di sisi lain, muncul juga narasi yang bilang kalau JKW justru masuk jebakan ES. Hey, menurut saya malah sebaliknya! ES-lah yang terjebak dalam permainan JKW.

Coba pikir, kenapa ES tidak langsung konferensi pers sepulang dari Solo? Kenapa harus nunggu dua pekan? Ada apa? Selama ini kan dia dikenal gacor dan seperti singa panggung di demo-demo. Tapi sekarang? Tak ada pernyataan resmi sama sekali. Yang beredar malah videonya melambai-lambai dari dalam mobil mewah barunya di Kuala Lumpur.

Seperti Gus Nur yang memblokir nomor Bang Damai Hari Lubis, saya juga sudah melakukan hal serupa. Nomor Bang ES saya hapus dan blokir. Saya tak mau di dalam HP tersimpan kontak seorang pengkhianat dan pecundang.

TRAGIS! Sungguh tragis. Di usia senjanya, ES malah menyematkan gelar pengkhianat untuk dirinya sendiri. Dikutuk dan dicemooh banyak orang. Berpuluh tahun berjuang, ujung-ujungnya jadi pecundang.

Karena itulah, kita sering diingatkan Al-Qur'an dan Hadits untuk betul-betul menjaga hati, teguh dalam sikap, dan istiqomah.

Nasehat para ulama dan guru juga kerap mengingatkan hal yang sama: agar kita senantiasa meminta petunjuk dan hidayah dalam doa.

Ujung Kota, 19 Januari 2026

(fb)

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar