Zaman Dajjal Kecil: Saat Kebenaran dan Kepalsuan Tak Lagi Bisa Dibedakan

- Minggu, 18 Januari 2026 | 20:25 WIB
Zaman Dajjal Kecil: Saat Kebenaran dan Kepalsuan Tak Lagi Bisa Dibedakan
Artikel

Dajjal Kecil dan Transaksi Menjadi Ternak Iblis

Sutoyo Abadi

Dalam Sirah Nabawiyah dijelaskan, akan tiba masanya manusia kehilangan kemampuan membedakan hak dan batil. Saat bertemu Dajjal, mereka akan terperangkap tipu dayanya. Salah satu tipuan paling berbahaya adalah ilusi tentang api dan air. “Yang dilihat manusia sebagai api, sebenarnya air. Sedangkan, apa yang dilihat manusia sebagai air, sebenarnya adalah api,” begitu sabda Nabi dalam riwayat Muslim.

Dajjal besar mungkin belum muncul. Tapi, pernahkah kita bertanya: apakah zaman ini sudah diawali oleh kehadiran para “Dajjal kecil”? Banyak orang kini tampak kebingungan. Mana yang benar, mana yang salah, kabur sekali batasnya.

Saya sendiri sering merasa was-was. Jangan-jangan hati ini sudah buta, atau iman sedang merana. Berkali-kali tertipu oleh permainan Dajjal kecil, tapi masih saja terjebak. Bahkan, tanpa sadar, ikut larut dalam merekayasa tipuan itu. Astaga, kita bisa tersesat tanpa menyadarinya.

Hingga akhirnya, sinyal-sinyal penipuan pun tak lagi terbaca. Lihatlah mereka yang mengaku beriman, tampil meyakinkan dengan dalih perjuangan suci. Mereka pura-pura lugu dan jujur, penuh dengan ayat-ayat suci. Tapi ujung-ujungnya, penipu juga.

Ini tak cuma terjadi di level biasa. Seorang ilmuwan yang merangkap aktor, politikus licik, pejabat tinggi negara, bahkan seorang presiden bisa tampil dengan kostum kesucian moral. Mereka berkoar dengan jargon idealisme, pidato berapi-api. Namun pada kenyataannya, semua itu sandiwara belaka.

Di panggung, bicara mereka lembut tentang etika, kebenaran, dan kesediaan mati demi rakyat. Tapi di balik layar, mereka adalah pengkhianat negara.

Nah, di sisi lain, perjuangan untuk menegakkan kejujuran dan keadilan justru dianggap musuh oleh para Dajjal kecil ini. Potensi idealisme harus dibunuh dan dibantai. Tujuannya jelas: agar kehidupan hedonis kaum kapitalis yang ibarat para iblis bisa berjalan tanpa gangguan.

Jadi, seorang idealis seringkali seperti pemenang yang kalah. Ia harus rela memilih kekalahan, bahkan kehancuran, demi mempertahankan moral dan kebenaran. Itu pilihannya.

Seorang idealis sejati sadar betul. Kemenangan hakiki justru terletak pada keteguhan berada di pihak nilai kebenaran, apapun risikonya.

Dan ya, upaya mempertahankan idealisme itu sebenarnya indah dan menawan. Prosesnya seperti pengembaraan tanpa henti, semacam ziarah terus-menerus menuju kemanusiaan dan nurani yang paling dalam.

Tapi tentu, seorang idealis butuh kesabaran ekstra. Ia harus menyusuri tepian-tepian akhir dari proses “memanusikan manusia.”

Fenomena inilah yang mirip dengan kabar dalam sirah. Manusia kini tenggelam dalam kebatilan. Tak mampu lagi melihat hak dan batil. Semua terbawa arus Dajjal kecil, di mana “hidup hanya dipertaruhkan dengan tawar-menawar transaksi materi.”

Benar juga kiranya pepatah yang bilang, “dunia hanya panggung sandiwara.”

Hiruk-pikuk manusia sekarang ini ibarat lomba akting. Setiap orang berusaha memainkan peran, hanya untuk mendapatkan remah-remah dari Dajjal kecil. Hidup seolah hanya untuk merasa, lalu mati menjadi debu. Mereka lupa, bahwa semua ini akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.

18/1/2026

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar