Museveni Kembali Menang, Uganda Terbelah di Bawah Bayang-Bayang Ketakutan

- Minggu, 18 Januari 2026 | 18:00 WIB
Museveni Kembali Menang, Uganda Terbelah di Bawah Bayang-Bayang Ketakutan

Di satu sisi, banyak warga Uganda yang masih setia pada Museveni. Mereka memujinya sebagai sosok yang mengakhiri kekacauan pascakemerdekaan dan membawa pertumbuhan ekonomi. Isaac Kamba, seorang guru 37 tahun, adalah salah satunya. Di sebuah demo pro-pemerintah di lapangan kriket Kampala, ia terlihat sumringah.

"Saya sangat senang melihat dia menang," ujarnya.

Di sisi lain, bagi para pendukung oposisi, pemilu ini penuh kecurangan. Juru bicara partai Wine, National Unity Platform, dengan tegas menyebut hasilnya "palsu". Wine sendiri menuduh terjadi "kecurangan penghitungan suara besar-besaran" yang dimudahkan oleh pemadaman internet sejak Selasa. Internet baru dipulihkan Sabtu malam.

Meski demikian, tim pengamat pemilu dari Afrika melaporkan tidak menemukan bukti kecurangan dalam penghitungan suara. Tapi mereka sangat mengecam tindakan represif yang terjadi. Eks Presiden Nigeria, Goodluck Jonathan, menyebut laporan intimidasi, penangkapan, dan penculikan itu telah "menimbulkan rasa takut dan mengikis kepercayaan publik".

Kekuatan yang Tak Terkalahkan

Kekuasaan Museveni terlihat semakin kokoh. Partainya, Gerakan Perlawanan Nasional, juga unggul jauh di kursi parlemen. Sejak merebut kekuasaan lewat jalur militer pada 1986, pria ini punya kendali penuh atas negara dan aparatnya. Setiap penantang selalu dihadapi dengan keras.

Nasib Kizza Besigye, tokoh oposisi utama yang empat kali melawan Museveni, jadi contohnya. Dia diculik di Kenya pada 2014, lalu dibawa kembali ke Uganda untuk diadili di pengadilan militer atas tuduhan pengkhianatan. Persidangannya masih berlangsung hingga kini.

Dengan kemenangan ketujuhnya, Museveni tampaknya belum akan beranjak dari puncak kekuasaan. Sementara Uganda, negara yang ia pimpin selama 40 tahun, tetap terbelah antara pujian dan ketakutan.


Halaman:

Komentar