Garis depan peperangan modern tampaknya sedang berubah. Pergeseran ini, kalau kita lihat, mulai benar-benar terasa setelah serangkaian konflik proksi antara Turki dan Rusia di Libya, Suriah, dan tak ketinggalan Azerbaijan.
Di ketiga medan itu, teknologi militer Rusia seperti mendapat pelajaran mahal. Alutsista Turki, terutama drone Bayraktar yang ganas, berulah dengan efektif yang mencengangkan. Tank dan sistem pertahanan udara yang diandalkan, ternyata tak berdaya menghadapi serangan dari langit yang hampir tak bersuara itu.
Namun begitu, perubahan doktrin itu makin kentara dan tak terbantahkan lagi saat perang Ukraina meletus. Ingat di awal invasi? Pasukan Rusia sempat terlihat perkasa, dengan barisan tank panjang merangsek dari Belgorod menuju Kyiv. Parade kekuatan itu seolah akan menggilas segalanya.
Tapi nyatanya, mereka dihajar habis.
Gabungan mematikan antara drone Bayraktar Turki dan M9 Reaper Amerika yang jelas-jelas sudah mengadopsi pelajaran dari kesuksesan Turki di tiga lokasi sebelumnya mengubah segalanya. Serangan dari udara itu begitu presisi dan menghancurkan moral. Akibatnya, momentum Rusia punah. Mereka terpaksa mundur dan kini, seperti yang kita saksikan, pertempuran cuma berkutat di wilayah Donetsk dan Donbas. Jauh dari ambisi awal.
Foto yang beredar memperlihatkan betapa dahsyatnya dampaknya: anggota kavaleri bermotor Rusia bergelimpangan tak bernyawa di sebuah hutan dekat Donetsk, menjadi korban dari mesin perang tanpa awak itu.
(Budi Saks)
Artikel Terkait
Delegasi AS Tiba di Islamabad untuk Selamatkan Gencatan Senjata dengan Iran
Pakaian Penumpang Terlilit Rantai, Sepeda Motor di Bojonegoro Terguling
DPR RI Tegaskan Komitmen Indonesia Perkuat Kerja Sama dengan Kuba
Jokowi Tanggapi Pernyataan JK dengan Sederhana: Saya Hanya Orang Kampung