Para Pemimpin Gereja Yerusalem Serukan Penolakan Terhadap Zionisme Kristen

- Minggu, 18 Januari 2026 | 16:20 WIB
Para Pemimpin Gereja Yerusalem Serukan Penolakan Terhadap Zionisme Kristen

Para Pemimpin Gereja Yerusalem Angkat Bicara: Tolak "Zionisme Kristen"

Suara mereka tegas dan bulat. Pada Sabtu lalu, 17 Januari 2026, para Patriark dan Kepala Gereja di Yerusalem mengeluarkan pernyataan bersama yang isinya tak main-main. Mereka secara resmi menolak ideologi yang disebut "Zionisme Kristen". Alasannya? Dianggap menyesatkan, berbahaya, dan berpotensi merusak persatuan umat Kristen di Tanah Suci.

Bagi yang selama ini mengikuti, pernyataan ini bukan sekadar formalitas. Ada nada prihatin yang kuat di dalamnya. Para pemimpin gereja menegaskan bahwa Gereja-gereja Apostolik bersejarah adalah satu-satunya perwakilan sah komunitas Kristen di wilayah itu. Mereka sudah menjalankan pelayanan dengan pengabdian teguh selama berabad-abad lamanya.

Namun begitu, belakangan muncul kekhawatiran. Menurut mereka, ada individu-individu lokal yang aktif mempromosikan paham Zionisme Kristen. Gerakan ini, meski mungkin tampak kecil, dinilai sedang menabur kebingungan di tengah jemaat. Yang lebih mengkhawatirkan, upaya-upaya itu diduga mendapat sokongan dari sejumlah aktor politik, baik di Israel maupun dari luar negeri.

"Ini bukan soal teologi semata," kira-kira begitu kesan dari pernyataan itu. Ada agenda politik yang dirasakan mengancam. Agenda yang, jika dibiarkan, bisa menggerogoti kehadiran Kristen di Yerusalem dan wilayah Timur Tengah secara lebih luas. Persatuan yang sudah terjalin rapuh bisa hancur berantakan.

Di sisi lain, nada peringatan itu terdengar lebih personal di ranah publik. Seperti yang beredar di sebuah cuitan viral: "Buat kamu yang Kristen tapi menganut ideologi Zionisme, bertaubatlah sebelum terlambat, sebab tangan kalian juga berlumuran darah!"

"BERITA BESAR. Partriarkat dan Perwakilan Gereja-Gereja di Yerusalem telah secara resmi menolak ideologi Zionisme Kristen karena menyesatkan, berbahaya, dan merusak persatuan umat."

Pernyataan resmi dari para pemimpin gereja memang lebih diplomatis, tapi pesan intinya sama: penolakan yang jelas. Mereka melihat gerakan ini bukan sebagai pembawa terang, melainkan sebagai pemecah belah. Di tanah yang sudah sarat dengan konflik, tambahan friksi dari dalam tubuh gereja sendiri adalah hal terakhir yang dibutuhkan.

Jadi, apa dampaknya? Pernyataan bersama ini jelas sebuah garis di pasir. Sebuah upaya untuk mengkonsolidasikan otoritas dan meluruskan arah. Ke depan, gereja-gereja arus utama di Yerusalem tampaknya akan lebih ketat menjaga narasi dan pelayanan mereka dari pengaruh yang dianggap menyimpang dan penuh kepentingan ini.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar