"Ini bukan soal teologi semata," kira-kira begitu kesan dari pernyataan itu. Ada agenda politik yang dirasakan mengancam. Agenda yang, jika dibiarkan, bisa menggerogoti kehadiran Kristen di Yerusalem dan wilayah Timur Tengah secara lebih luas. Persatuan yang sudah terjalin rapuh bisa hancur berantakan.
Di sisi lain, nada peringatan itu terdengar lebih personal di ranah publik. Seperti yang beredar di sebuah cuitan viral: "Buat kamu yang Kristen tapi menganut ideologi Zionisme, bertaubatlah sebelum terlambat, sebab tangan kalian juga berlumuran darah!"
Pernyataan resmi dari para pemimpin gereja memang lebih diplomatis, tapi pesan intinya sama: penolakan yang jelas. Mereka melihat gerakan ini bukan sebagai pembawa terang, melainkan sebagai pemecah belah. Di tanah yang sudah sarat dengan konflik, tambahan friksi dari dalam tubuh gereja sendiri adalah hal terakhir yang dibutuhkan.
Jadi, apa dampaknya? Pernyataan bersama ini jelas sebuah garis di pasir. Sebuah upaya untuk mengkonsolidasikan otoritas dan meluruskan arah. Ke depan, gereja-gereja arus utama di Yerusalem tampaknya akan lebih ketat menjaga narasi dan pelayanan mereka dari pengaruh yang dianggap menyimpang dan penuh kepentingan ini.
Artikel Terkait
Dokter Tifa Tantang Transparansi: 709 Dokumen Jokowi Masih Jadi Misteri
Banjir Rendam Cakung, Brimob Sigap Evakuasi Warga dan Dokumen Penting
Tim DVI Ambil Sampel DNA Keluarga Pramugari Korban Musibah Gunung Bulusaraung di Bogor
Menguak Peta Perang Global: Benarkah Islam Biang Keladi Konflik dan Kemiskinan?