Pernyataan keras itu bukan sekadar ungkapan spontan. Noe punya argumennya sendiri. Ia mengulik pidato Bung Karno, bahwa intisari Pancasila jika diperas adalah gotong royong. Itulah kekuatan bangsa Indonesia, katanya. Namun, ia merasa pemahaman ini telah menyempit dan tak diimplementasikan dengan serius.
"Tapi kita selalu diberi pelajaran gotong royong itu hanyalah pindah rumah bareng-bareng, kerja bakti di kampung," ujarnya dengan nada kecewa.
Menurutnya, semangat gotong royong itu nyaris tak terlihat dalam kebijakan negara, khususnya di era digital. Ia mempersoalkan ribuan aplikasi yang dibuat pemerintah, tapi tak satu pun yang benar-benar mengadaptasi nilai dasar itu ke dalam dunia digital. "Ga no, sepemahaman ku ga ono," sambungnya, mencampur bahasa Indonesia dan Jawa untuk penekanan. Artinya, menurut pemahamannya, tidak ada. Ini menunjukkan, menurut Noe, ketidakpahaman terhadap Pancasila masih sangat luas.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa Pancasila sebagai dasar negara seolah tak lagi menjadi perhatian bersama. Nilai-nilainya tidak di-update, tidak dihidupkan dalam diskursus sehari-hari pemerintahan. "Kan itu Pancasila sebagai dasar negara, dan itu tidak diperhatikan, tidak diupdate bersama," pungkasnya.
Kini, dengan jabatan barunya, semua mata tertuju padanya. Apakah suara kritisnya akan meredup di dalam sistem, atau justru ia akan membawa "gotong royong" yang ia perjuangkan itu ke meja kebijakan? Hanya waktu yang akan menjawab. Yang jelas, langkah Noe Letto ini telah menambah warna baru dan mungkin sedikit kontroversi dalam peta politik nasional.
Artikel Terkait
Remaja di Gowa Tembus Mata Peluru Jelly, Polisi Kejar Pelaku
Rem Blong Truk Kontainer Diduga Picu Kecelakaan Beruntun di Tol Cipularang, 2 Tewas
Anak Tinggalkan Adik Bayi di Gerobak Nasi Uduk, Surat Tulisan Tangan Ungkap Alasan
Fajar/Fikri Tersingkir di 16 Besar All England Usai Duel Sengit Tiga Gim