Ketua Majelis Syura Partai Ummat, Prof. Amien Rais, tak sungkan melancarkan kritik pedas. Sasaran utamanya? Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru yang rencananya berlaku penuh mulai 2 Januari 2026. Menurut Amien, aturan ini bukan sekadar produk hukum biasa. Ia melihatnya sebagai alat yang berpotensi mengembalikan Indonesia ke zaman otoriter, khususnya di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
Kritik itu disampaikan lewat kanal YouTube pribadinya, Kamis lalu. Amien secara khusus menyoroti beberapa pasal yang ia anggap bermasalah. Ada Pasal 217 sampai 240, yang mengancam hukuman penjara hingga tiga tahun bagi pelaku penghinaan terhadap Presiden dan Wapres. Lalu, Pasal 256 juga jadi perhatian karena mewajibkan izin formal untuk demonstrasi.
"Dengan payung hukum ini, rezim Prabowo-Gibran punya alasan kuat untuk menangkap dan memidanakan siapa pun yang berani mengkritik mereka," ujarnya.
Ia lalu bertanya, "Lantas, apa bedanya dengan rezim Soeharto dulu yang juga tak memberi ruang bagi oposisi dan unjuk rasa?"
Mantan Ketua MPR RI ini melihat sebuah pola yang berulang. Menurutnya, ada "benang hitam" dalam sejarah kepemimpinan nasional, di mana banyak pemimpin sebenarnya tak begitu menyukai demokrasi. Ia menarik garis dari era "Demokrasi Terpimpin" Soekarno hingga "Demokrasi Pancasila" di masa Soeharto, yang keduanya ia nilai sebagai bentuk autokrasi yang dibungkus rapi.
Tak hanya ke masa lalu, Amien juga memberikan catatan keras untuk kepemimpinan yang baru saja berlalu. Presiden ke-7, Joko Widodo, ia sebut sebagai "presiden terburuk" karena dianggap merusak tatanan negara. Kekhawatirannya kini mengerucut pada Prabowo Subianto. Dengan dukungan regulasi yang represif seperti KUHP baru ini, ia kuatir sang presiden terpilih akan berubah menjadi otokrat baru.
Di sisi lain, Amien tak hanya menyalahkan eksekutif. Ia menuding DPR RI punya peran sentral dalam merobohkan pilar demokrasi melalui pengesahan KUHP tersebut. Mirisnya, bangsa yang sudah merdeka 81 tahun ini seolah harus kembali belajar dari nol tentang nilai-nilai dasar demokrasi.
"Perjuangan kita sekarang justru lebih sulit," pungkas Amien dengan nada getir.
"Karena kita melawan bangsa sendiri. Kita tenang-tenang saja andai kata dijajah oleh bangsa sendiri," lanjutnya, menyitir pesan Bung Karno tentang "Londo Ireng" atau penjajah dari internal negeri sendiri.
Artikel Terkait
BNPB: Ribuan Jiwa Terdampak Banjir dan Cuaca Ekstrem di Sejumlah Wilayah Indonesia
PSG Kalahkan Arsenal Lewat Adu Penalti, Pertahankan Gelar Liga Champions
Final Liga Champions 2025/2026: PSG vs Arsenal Berujung Adu Penalti setelah 120 Menit Imbang 1-1
Perempuan Indramayu Korban TPPO Modus Pengantin Pesanan Pulang Setelah Lima Bulan Alami Kekerasan di China