Ekspor Minyak Mentah AS Tembus Rekor Tertinggi di Tengah Gangguan Pasokan Timur Tengah

- Minggu, 31 Mei 2026 | 04:35 WIB
Ekspor Minyak Mentah AS Tembus Rekor Tertinggi di Tengah Gangguan Pasokan Timur Tengah

Ekspor minyak mentah Amerika Serikat baru-baru ini menembus rekor tertinggi sepanjang masa, didorong oleh gangguan pasokan besar-besaran dari kawasan Timur Tengah. Lonjakan ini terjadi di tengah ketidakstabilan geopolitik yang melumpuhkan jalur pelayaran strategis global.

Pada bulan lalu, volume ekspor minyak AS sempat menyentuh hampir 12,9 juta barel per hari. Sementara itu, rata-rata ekspor dalam periode satu bulan yang berakhir pada 15 Mei tercatat mencapai 5,57 juta barel per hari. Angka ini menjadi bukti nyata pergeseran peta pasokan energi dunia.

Pencapaian tersebut, menurut data yang dirilis pada akhir Mei 2026, tidak lepas dari penarikan besar-besaran Cadangan Minyak Strategis (SPR) AS. Sejak pecahnya konflik bersenjata di Teluk dan terhambatnya pelayaran di Selat Hormuz, Amerika Serikat menjelma menjadi andalan utama bagi negara-negara yang haus pasokan minyak.

Armada kapal tanker kini berdatangan ke pelabuhan-pelabuhan AS untuk mengangkut minyak mentah menuju Eropa dan Asia. Kedua kawasan tersebut tengah berupaya keras mencari alternatif pengganti minyak Timur Tengah setelah blokade di Selat Hormuz menghentikan arus distribusi normal.

Untuk membantu mengimbangi kekurangan pasokan global, pemerintah AS berkomitmen melepaskan 172 juta barel minyak mentah dari cadangan daruratnya. Data dari firma riset Kpler mengungkapkan, sekitar setengah dari minyak mentah yang dikeluarkan dari SPR dalam beberapa bulan terakhir langsung diekspor, bukan diolah di dalam negeri.

Pembeli asing, khususnya dari Eropa dan Asia, tercatat secara agresif menyerap sekitar 40 hingga 50 persen minyak mentah yang dilepaskan dari cadangan darurat AS. Permintaan yang tinggi ini menunjukkan betapa gentingnya situasi pasokan global saat ini.

Namun, para analis mengingatkan bahwa strategi ini memiliki batas yang jelas. Meskipun untuk sementara mampu menekan lonjakan harga minyak yang ekstrem, kebijakan pelepasan cadangan darurat tidak dapat berlangsung selamanya. Setelah persediaan darurat menipis, pasar minyak global justru berpotensi menghadapi tekanan kenaikan harga yang lebih tajam.

Saat ini, total persediaan di SPR telah anjlok menjadi sekitar 365 juta barel. Angka tersebut merupakan level terendah sejak pertengahan April 2024, menandakan bahwa ruang gerak AS untuk terus membanjiri pasar semakin terbatas.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar