Penyair, Gerakan Mahasiswa, Pers & Sang Komedian
Oleh Jimmy H Siahaan
WS Rendra, Si Burung Merak itu, pernah membacakan sebuah puisi di hadapan para mahasiswa. Waktu itu tanggal 1 Desember 1977, lokasinya di Salemba, Kampus Universitas Indonesia. Judulnya “Sajak Pertemuan Mahasiswa”.
Dengan lantang, ia melontarkan pertanyaan yang menusuk: Kita ini dididik untuk memihak yang mana?
Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini akan menjadi alat pembebasan, ataukah alat penindasan?
Di bawah matahari ini kita bertanya. Ada yang habis, ada yang mengikis. Dan maksud baik kita berdiri di pihak yang mana!
Begitulah Rendra. Puisi-puisinya tak cuma indah, tapi penuh gugatan. “Kenapa maksud baik tidak selalu berguna?” atau “Maksud baik untuk siapa?” tanyanya lagi. Ia seolah mengajak setiap pendengarnya, terutama anak-anak muda, untuk merenung ulang. Tentang perjuangan, keadilan, dan makna kebaikan yang sering kali tak sederhana. Puisi itu menggambarkan betapa rumitnya realitas sosial yang harus dihadapi, sekaligus menjadi cambuk untuk terus bertanya dan bertindak.
Tak hanya itu, ada juga “Sajak Anak Muda”. Di sana Rendra menulis dengan getir: Kita adalah angkatan gagap yang diperanakkan oleh angkatan takabur. Ia merasa generasinya kurang dididik soal keadilan. Politik pun jadi hal yang tabu.
Konteksnya jelas: tahun 1978 adalah puncak represifnya Orde Baru. Rendra tak gentar mengkritik ketidakadilan dan kemiskinan lewat kata-kata. Sebut saja “Sebatang Lisong” yang ditulisnya di Bandung tahun itu. Puisi tentang “delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan” itu menggema kuat, terutama di Yogyakarta.
Nah, dari puisi-puisi seperti inilah, menurut sejumlah saksi, lahir semangat baru. Gerakan mahasiswa 1977/1978 mulai menemukan bentuknya. Sebenarnya, gelagatnya sudah ada sejak 1973, lewat pentas drama “Mastodon Burung Kondor” di Unpad yang luar biasa. Tapi pertemuan-pertemuan mahasiswa di akhir 1977 hingga awal 1978 benar-benar jadi bagian dari gerakan politik besar. Mereka menentang Orde Baru, menuntut reformasi, dan mendesak berakhirnya kekuasaan Soeharto.
Puncak represinya terjadi pada 20 Januari 1978.
Rencana aksi besar mahasiswa ternyata bocor ke aparat. Hasilnya? Penangkapan besar-besaran. Para pimpinan dan aktivis diciduk sebelum aksi mereka terlaksana. Di Jakarta, banyak yang ditahan di “Kampus Kuning”, sebuah kompleks militer di Bekasi. Kampus-kampus di Bandung, Jogja, Surabaya, dan Medan pun diduduki. Keesokan harinya, 21 Januari 1978, pemerintah secara resmi membekukan Dewan Mahasiswa. Era organisasi mahasiswa yang otonom pun berakhir.
Artikel Terkait
Pernikahan Sekretaris Pribadi Prabowo Dihadiri Deretan Elite Politik
Krisis Wibawa Guru: Ketika Pendidikan Kehilangan Ruhnya
Genangan Air Surut, KRL Jakarta Kota Kembali Beroperasi
WTC Mangga Dua Terendam, Lalu Lintas Lumpuh Hingga Siang