Kalau kita lihat kelompok paling atas, ketimpangannya makin jelas. Laporan "The Wealth Report 2025" dari Knight Frank mencatat jumlah orang super kaya (aset di atas USD 10 juta) di beberapa negara:
- Amerika Serikat: 905.413 orang dari 348 juta penduduk.
- Tiongkok: 471.634 orang dari 1,4 miliar penduduk.
- Singapura: 9.674 orang dari 5,9 juta penduduk.
- Vietnam: 5.459 orang dari 102 juta penduduk.
- Indonesia: 8.120 orang dari 287 juta penduduk.
Angka-angkanya berbicara. Di AS, orang super kaya mencakup 2,6% populasi. Singapura 1,64%. Bahkan Vietnam punya 0,05%. Sementara Indonesia? Hanya 0,02%. Ketimpangannya sangat parah.
Lalu, masih pantaskah kita membanggakan gelar "penduduk terbahagia di dunia" dari sebuah studi global? Memang uang bukan segalanya untuk bahagia. Tapi coba tanya pada ibu-ibu yang antre minyak goreng, atau bapak-bapak yang kewajan bayar listrik. Untuk memenuhi kebutuhan dasar sekalipun, uang tetap diperlukan. Kuota internet, biaya sekolah, transportasi semua butuh duit.
Kemewahan dan gemerlap ibu kota bukanlah cerminan seluruh negeri. Kemakmuran segelintir orang tak boleh membuat kita lengah. Jadi, sebelum berkesimpulan bahwa segala sesuatu berjalan baik-baik saja, ada baiknya kita berpikir ulang. Dan berpikir yang cerdas.
Well… think again, and think smart.
(Arsyad Syahrial)
Artikel Terkait
Malut United dan PSM Makassar Bermain Imbang 3-3 dalam Drama Penuh VAR
Nadiem Tegaskan Tak Beri Arahan Wajibkan Chromebook dalam Sidang Korupsi
Vidi Aldiano, Duta Persahabatan Indonesia, Meninggal Dunia di Usia 35 Tahun
Podcast Vidi Aldiano dan Deddy Corbuzier Kembali Viral Usai Kabar Duka