Khamenei Tuding AS dan Israel Dalang Kerusuhan, Janji Pertanggungjawaban

- Minggu, 18 Januari 2026 | 07:00 WIB
Khamenei Tuding AS dan Israel Dalang Kerusuhan, Janji Pertanggungjawaban

Pada hari Sabtu, 17 Januari 2026, Ayatollah Ali Khamenei menyampaikan pidato keras. Isinya tak lain adalah tanggapan atas gelombang demonstrasi dan kerusuhan yang, menurutnya, telah menelan ribuan korban jiwa. Siapa dalangnya? Khamenei tak ragu: Amerika Serikat dan Israel.

Berikut ini adalah poin-poin kunci yang disampaikan Pemimpin Tertinggi Iran itu.

“Sifat hasutan ini jelas-jelas Amerika,” tegasnya di awal pidato. “Mereka yang merencanakan, mereka pula yang melaksanakannya.”

Pengalaman Republik Islam selama lebih dari empat dekade, katanya, memberikan pelajaran yang gamblang. “Tujuan Amerika, saya katakan dengan tegas, adalah untuk melahap Iran. Ingin menguasai kita kembali.”

Sejak Revolusi 1979, dominasi AS atas Iran menurut Khamenei telah dihancurkan oleh rakyat. Kaum muda dan seluruh lapisan masyarakat berperan, tentu saja, di bawah kepemimpinan sang Imam. Namun begitu, sejak hari pertama itu pula, AS diklaim terus berupaya memulihkan kendali militer, politik, dan ekonominya.

“Ini bukan soal presiden AS yang sekarang, atau yang sudah lengser. Ini adalah kebijakan AS yang tak berubah,” ujarnya. Baginya, sebuah negara dengan posisi geografis sensitif, kemampuan, ukuran, dan populasi seperti Iran apalagi dengan kemajuan sains dan teknologinya adalah sesuatu yang tak bisa ditoleransi oleh Washington.

Khamenei tak sungkan menyebut presiden AS sebagai penjahat. “Dia kriminal, karena ribuan korban jiwa, kerusakan, dan fitnah yang ditujukan pada bangsa Iran.”

Di sisi lain, dia mengakui ada yang berbeda dari kerusuhan kali ini. Biasanya, yang turun tangan adalah jurnalis atau politisi kelas dua AS dan negara Eropa. “Tapi yang sekarang, Presiden Amerika Serikat sendiri secara pribadi ikut serta dalam penghasutan dan pembunuhan.”

Khamenei merinci, sang presiden disebutnya berbicara, mengancam, mendorong para perusuh. Bahkan mengirim pesan dukungan, termasuk janji dukungan militer. “Artinya, presiden AS sendiri terlibat langsung dan menjadi bagian dari kerusuhan ini.”

Lebih parah lagi, kelompok perusuh yang melakukan pembakaran dan pembunuhan justru digambarkan oleh presiden AS sebagai “rakyat Iran”. Khamenei menyebut ini fitnah besar. “Dia bilang mau membela rakyat Iran. Ini kejahatan.”

Semua alasan itu, klaimnya, terdokumentasi dengan rapi. Tidak ada yang disembunyikan. “Kita punya bukti berkelanjutan bahwa bantuan datang dari AS dan rezim Zionis.”

Namun, dia menegaskan, bangsa Iran telah mematahkan pemberontakan itu. Dengan berkumpulnya jutaan orang di Teheran dan kerumunan besar di kota-kota lain, rakyat Iran disebut berhasil menghantam para penipu. “Segala puji bagi Allah,” sambungnya.

“Bangsa Iran telah mengalahkan Amerika,” serunya. Pemberontakan yang dilancarkan dengan persiapan matang itu, katanya, hanyalah pendahuluan untuk aksi lebih besar. Tapi rakyat Iran sudah mengalahkannya.

Tapi, itu belum cukup. “Benar, kita sudah memadamkan pemberontakan. Tapi tidak cukup. AS harus dimintai pertanggungjawaban.”

Khamenei kemudian menjelaskan sikapnya. “Kita tidak ingin membawa negara ini ke perang. Tapi kita juga tak akan mengabaikan para penjahat domestik.”

“Dan yang lebih buruk dari penjahat domestik adalah penjahat internasional. Kita juga tak akan biarkan mereka lolos.” Hal ini, katanya, harus diupayakan dengan metode yang tepat. Dengan keberhasilan ilahi, sebagaimana kekuatan pemberontakan dipatahkan, kekuatan para penyebarnya pun harus dipatahkan.

"

Dalam pidatonya, Khamenei juga menyebut aksi perusakan yang meluas. Dia mengklaim lebih dari 250 masjid dan fasilitas medis dibakar oleh para pengunjuk rasa.

Menurut narasi resmi, unjuk rasa awalnya damai. Bermula pada 28 Desember di beberapa kota, protes ini berkaitan dengan kenaikan harga dan kesulitan ekonomi.

“Pemerintah mengakui tuntutan mereka dan kesulitan yang dihadapi,” kata koresponden Al Jazeera, Resul Serdar Atas.

Tapi dia menambahkan, pihak berwenang kini berpendapat demonstrasi itu kemudian “dibajak oleh aksi kekerasan yang menerima perintah dari kekuatan luar.”

Para pejabat Iran mengklaim para pelaku “dilengkapi, dibiayai, dan dilatih” oleh aktor asing. Khamenei menempatkan Trump sebagai pusat dari plot ini.

Sementara itu, kantor berita semi-resmi Fars melaporkan pada Sabtu bahwa layanan SMS telah dipulihkan di seluruh negeri. Ini bagian dari rencana bertahap setelah gangguan internet total yang berlangsung hampir delapan hari.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar