Kubah Masjid: Jejak Akulturasi Islam dan Kearifan Lokal Nusantara

- Sabtu, 17 Januari 2026 | 22:25 WIB
Kubah Masjid: Jejak Akulturasi Islam dan Kearifan Lokal Nusantara

Masjid itu lebih dari sekadar bangunan untuk salat. Ia adalah perwujudan nyata dari peradaban Islam yang hidup, dinamis, dan selalu menyatu dengan budaya setempat.

Di Indonesia, coba lihat sekeliling. Elemen paling mencolok yang langsung bikin kita bilang, "Itu masjid," ya kubahnya. Padahal, kalau kita tilik sejarah, kubah bukanlah bagian asli dari arsitektur masjid Nusantara. Fakta ini menarik, lho. Apalagi sekarang, banyak pengurus masjid yang ingin desainnya tampak megah tapi tetap punya makna filosofis yang dalam.

Jadi, perjalanan bentuk atap masjid di sini sebenarnya adalah cerita panjang tentang percakapan antara tradisi lokal, pengaruh luar, dan keinginan untuk terhubung dengan identitas Islam global. Dengan kata lain, memahami asal-usul kubah berarti menyelami sejarah Islamisasi yang damai dan penuh akulturasi.

Era di Mana Kubah Belum Jadi Raja

Pada masa-masa awal Islam masuk, khususnya di Jawa, masjid justru punya atap yang berbentuk tumpang atau tajug. Ini adalah adaptasi dari arsitektur lokal yang sudah ada jauh sebelum Islam datang. Ambil contoh Masjid Agung Demak yang didirikan para Wali.

Abdul Baqir Zein dalam bukunya "Masjid-Masjid Kuno di Indonesia" (1999) punya tafsir menarik. Menurutnya, bentuk atap tumpang yang makin ke atas makin kecil itu melambangkan tingkatan spiritual menuju Allah SWT. Biasanya jumlahnya ganjil tiga atau lima dan ternyata sangat cocok dengan iklim tropis kita yang sering hujan lebat.

Nah, di periode ini, simbol-simbol Islam dari Timur Tengah tidak dipaksakan. Justru diselipkan secara halus lewat fungsi baru dalam wadah arsitektur lama. Cara inilah yang membuat Islam diterima dengan cepat dan mudah.

Lalu, Kapan Kubah Masuk ke Nusantara?

Perubahannya nggak terjadi serentak. Pengaruh kubah merembes lewat dua jalur utama: Kesultanan Utsmaniyah di Turki dan arsitektur Mughal dari India, yang justru banyak dibawa oleh arsitek Belanda di zaman kolonial.

G.F. Pijper dalam catatannya (1984) menyebut, perubahan signifikan baru benar-benar terlihat pada abad ke-19.

Momen pentingnya adalah saat Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh dibangun kembali oleh pemerintah kolonial Belanda tahun 1879, menggantikan yang hangus terbakar. Arsiteknya, de Bruijn, mengusung gaya Indo-Saracenic dengan ciri khas kubah hitam besar yang mendominasi.

Reaksi awal masyarakat Aceh? Penolakan. Bentuknya dianggap terlalu asing, mirip gereja. Tapi lambat laun, kemegahan kubah Baiturrahman justru jadi standar kecantikan baru. Kubah kemudian dilihat sebagai simbol kemajuan dan keterhubungan dengan umat Islam internasional.

Beragam Wajah Kubah Indonesia

Seiring majunya teknologi material, model kubah di tanah air jadi sangat beragam. Beberapa yang paling sering ditemui:

  1. Kubah Setengah Lingkaran

Ini yang paling umum. Terinspirasi dari arsitektur Bizantium seperti Hagia Sophia, lalu diadopsi dunia Islam. Di sini, biasanya terbuat dari beton cor atau rangka baja. Keunggulannya, ruang dalam terasa luas dan sirkulasi udaranya bagus.


Halaman:

Komentar