Isra Mikraj: Cermin Ujian Iman dalam Perjalanan Hidup Manusia

- Sabtu, 17 Januari 2026 | 21:25 WIB
Isra Mikraj: Cermin Ujian Iman dalam Perjalanan Hidup Manusia

Isra sebagai Gambaran Perjalanan Kehidupan Manusia

Kita tentu sudah sering mendengar kisah Isra. Intinya, itu adalah perjalanan Rasulullah Saw dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa. Nah, dari sanalah kemudian beliau melanjutkan perjalanan yang lebih dahsyat lagi, Mikraj, naik hingga ke Sidratul Muntaha.

Nah, menariknya, Syaikh Nawawi al-Bantani dalam Nūr al-Ẓalām punya tafsiran yang dalam. Beliau menyebut bahwa tangga yang dipijak Nabi saat Mikraj itu sama dengan tangga yang diperlihatkan pada orang yang sedang sekarat. Lewat tangga itulah ruh orang-orang beriman diangkat.

Kalau kita renungkan, awal mula Isra sendiri dimulai dengan Nabi dibangunkan dari tidur. Hati beliau lalu dibedah, disucikan, dan dipenuhi iman. Ini bukan tanpa makna. Banyak yang melihatnya sebagai isyarat kuat tentang kelahiran manusia. Kita semua lahir dalam keadaan fitrah, hati yang masih bersih dan lurus. Soal nanti jadi seperti apa, sangat dipengaruhi oleh didikan orang tua dan lingkungan sekitar.

Rasulullah sendiri pernah bersabda, yang intinya:

Setelah proses penyucian hati itu, barulah Nabi diberangkatkan dengan menunggangi Buraq. Dan dalam perjalanan malam itu, beliau menyaksikan berbagai pemandangan yang sebenarnya adalah gambaran nyata dari kehidupan kita.

Ada sosok perempuan cantik dengan perhiasan yang menggoda, yang melambangkan gemerlapnya dunia. Lalu ada pula perempuan tua renta, yang menurut sebagian ulama adalah simbol dari usia dunia yang sudah sangat lanjut. Isyaratnya, dunia ini tak lama lagi dan Nabi Muhammad adalah utusan terakhir.

Beliau juga melihat hal-hal lain yang mengerikan. Seperti para penyulut fitnah yang terus menggunting lidah mereka sendiri, atau para pemakan riba yang memilih memakan daging busuk dan membuang yang segar.

Semua yang disaksikan Nabi itu, kalau dipikir-pikir, ya itulah hakikat dunia yang kita jalani sekarang. Dari kita lahir sampai nanti tutup usia, realitas semacam ini akan selalu kita temui. Godaan harta dan tahta yang membuat orang lupa diri. Tanda-tanda alam yang seolah menunjukkan bumi ini sudah tua. Belum lagi penyimpangan moral yang merajalela, fitnah yang mudah tersebar lewat mulut dan media, sampai praktik ekonomi yang zalim dan serakah.

Iman yang Terus Diuji

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:


Halaman:

Komentar