Suasana di ruang podcast itu tegang. Suara Kurnia Tri Royani terdengar bergetar, penuh dengan kekecewaan yang dalam. Ia merasa dikhianati. Dikhianati oleh rekan seperjuangannya sendiri, Eggi Sudjana Mastal.
Masalahnya bermula dari kunjungan Eggi bersama Damai Hari Lubis ke kediaman Joko Widodo di Solo. Mereka datang tanpa bicara dulu dengan kawan-kawan lain. Kunjungan yang, menurut Kurnia, berujung pada penghentian penyelidikan atau SP3 di Polda Metro Jaya. Bagi Kurnia, langkah itu terasa seperti sebuah pengkhianatan terhadap perjuangan yang mereka yakini: membongkar kebenaran soal ijazah Jokowi dari Fakultas Kehutanan UGM.
“Allah memerintahkan kita untuk istiqomah di jalan yang benar, sebagaimana kami telah perintahkan kepadamu dan untuk dipahami juga oleh bang Eggi Sudjana ya kan,”
Begitu kata Kurnia dalam podcast Madilog, Jumat lalu. Nada bicaranya seperti seorang yang sedang mencoba mengingatkan, sekaligus terluka.
Ia sendiri, bersama sejumlah kawannya, kini berstatus tersangka. Ditreskrimum Polda Metro Jaya menetapkan mereka tersangka atas laporan yang dilayangkan Joko Widodo. Dan di tengah situasi genting itu, Eggi justru mengambil langkah sendiri. "Nah kalau Anda bertanya itu datang ke sana ujug-ujug tanpa sebab tanpa memberi tahu kawan seperjuangan padahal jelas-jelas ini merupakan kontradiksi, kontraproduktif, bahkan sangat berlawanan, kita menyebutnya apa?," ujarnya lagi, pertanyaannya menggantung penuh retorika.
Rasa sakitnya nyata. Bahkan, ia mengaku hampir menangis. Pedihnya dikhianati oleh orang yang selama empat tahun terakhir berjuang bersama untuk satu tujuan: mengusut keaslian ijazah yang digunakan Jokowi untuk maju Pilkada hingga dua kali menjadi presiden.
“Sangat menyakitkan. Kita ini tersangka ya, tersangka itu selangkah lagi. Tapi kami bangga tersangkanya bukan karena korupsi ya, bukan karena menyakiti orang, bukan karena yang lain-lain,”
Kurnia menegaskan itu. Perjuangan mereka, klaimnya, murni dari hati. Pro-bono, tanpa bayaran. Yang ada malah risiko besar: ancaman penjara. Tapi semua itu dijalani dengan keyakinan teguh demi apa yang mereka anggap sebagai kebenaran. "Saya ingin menyampaikan bahwa kita ini sama-sama berjuang loh, hampir 4 tahun begitu ya kan dan pro-bono, benar-benar dari hati kita sendiri, berjuang luar biasa," ucapnya.
Di akhir perbincangan, harapannya sederhana sekaligus berat. Ia berharap Eggi Sudjana mau merenung. Meninjau ulang langkahnya yang dianggap mengorbankan perjuangan bersama.
“Kira Abang Eggi kurang sabar saja dalam hal ini gitu. Anda harus percaya kepada Allah sebagaimana yang Anda ajarkan kepada kami, istiqomah dan itu berat,”
Pungkas Kurnia. Sebuah penutup yang terdengar seperti doa sekaligus ratapan untuk sebuah persahabatan seperjuangan yang retak.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Terima Laporan Strategis dari Wakil Ketua DPR Usai Kunjungan ke Rusia dan Prancis
Anggota DPR Desak Percepat Regulasi PPPK untuk 630 Ribu Guru Madrasah
Koordinator KKN UGM 1985 Klaim Tak Kenal Joko Widodo
Rocky Gerung Soroti Rp17 Triliun untuk Dewan Perdamaian Trump: Harga Sebuah Buku dan Nyawa Anak di NTT