Menteri Trenggono Berduka, Tiga Staf KKP Jadi Penumpang Pesawat yang Hilang Kontak di Maros

- Minggu, 18 Januari 2026 | 00:05 WIB
Menteri Trenggono Berduka, Tiga Staf KKP Jadi Penumpang Pesawat yang Hilang Kontak di Maros

Suasana haru menyelimuti pernyataan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono. Ia menyampaikan duka mendalam terkait laporan jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Maros, Sulawesi Selatan. Yang membuatnya semakin pilu, Trenggono mengonfirmasi ada tiga orang staf kementeriannya yang berada di dalam pesawat naas tersebut.

Saat jumpa pers di hari Sabtu, 17 Januari 2026, Trenggono membuka dengan klarifikasi. “Kami di sini ingin memberikan kejelasan soal informasi beredar yang menampilkan logo KKP. Memang benar, ada pegawai kami di pesawat itu,” ujarnya tegas, namun terdengar berat.

Menurutnya, ketiga pegawai itu sedang menjalankan tugas resmi. Tugasnya adalah melakukan pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan dari udara, atau yang biasa disebut air surveillance, di wilayah pengelolaan perikanan Indonesia.

Trenggono lantas menyebutkan nama-nama mereka satu per satu. Ada Ferry Irawan, berpangkat Penata Muda Tingkat I, yang bertugas sebagai analis kapal pengawas. Lalu Deden Mulyana, juga Penata Muda Tingkat I, yang menjabat sebagai pengelola barang milik negara. Serta Yoga Naufal, yang berposisi sebagai operator foto udara.

“Soal insiden yang menimpa pesawat register PK-THT dari PT IAT ini, kami nyatakan prihatin sekali. Sedih, dan kami berdoa untuk yang terbaik bagi semua penumpang dan kru,” ungkap Trenggono, menyampaikan keprihatinannya.

Sebelumnya, pesawat jenis ATR 42-500 itu dilaporkan hilang kontak. Kejadiannya saat pesawat hendak mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, pada Sabtu siang. Pesawat yang dibuat tahun 2000 dengan nomor seri 611 itu terbang dari Yogyakarta menuju Makassar.

Endah Purnama Sari, Kepala Bagian Humas dan Umum Dirjen Perhubungan Udara, memberikan kronologi terbaru. Menurutnya, sekitar pukul 04.23 UTC, Air Traffic Control Makassar sempat mengarahkan pesawat untuk melakukan pendekatan ke landasan pacu 21 Bandara Sultan Hasanuddin.

Sayangnya, setelah itu kontak terputus.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar