Malam di kampung Gaum, Karanganyar, biasanya sunyi. Tapi belakangan, ada pemandangan tak biasa. Sebuah drone melayang pelan di atas atap rumah warga, matanya yang berupa kamera menyapu perlahan setiap sudut. Ini bukan latihan militer atau syuting film. Ini adalah ronda malam versi baru, buah dari kesabaran dan tekad seorang ketua RT bernama Muhammad Fajar.
MURIANETWORK.COM, pria 33 tahun yang memimpin RT 22 itu, punya cara sendiri dalam menjaga lingkungan. Sementara banyak orang mengeluh soal keterbatasan, dia memilih diam-diam menabung. Bukan untuk dirinya, tapi untuk sebuah alat yang dia yakini bisa membantu: drone.
Gagasan ini muncul dari keresahan yang sangat manusiawi. Ronda keliling konvensional di wilayahnya seringkali terbengkalai. Warga, kebanyakan bapak-bapak muda yang sibuk bekerja, kerap tak bisa hadir saat giliran jaga, apalagi di masa liburan panjang. Kampung pun terasa lebih rentan.
“Di tempat kami memang masih menerapkan ronda keliling. Tetapi ada keresahan untuk membuat sistem ronda yang efektif karena di tempat kami warganya dihuni oleh bapak-bapak milineal, kemudian sering tidak ada personel ronda ketika masa liburan,” ujar Fajar.
Keresahan itu tak berhenti jadi omongan kosong. Fajar memutuskan bertindak. Dan dia melakukannya dengan cara yang luar biasa sabar: menabung dari gajinya sebagai ketua RT.
Bayangkan, selama tujuh tahun menjabat, uang tunjangan yang diterimanya sekitar Rp 2 juta per tahun disisihkan sedikit demi sedikit. “Sempat kepikiran ingin punya drone untuk kebutuhan kampung. Dari situ saya tabung,” katanya. Jumlahnya mungkin tak seberapa di mata banyak orang. Tapi bagi MURIANETWORK.COM, itu soal komitmen. Soal memegang amanah dengan sepenuh hati, tanpa perlu pengumuman atau pencarian pujian.
Akhirnya, sejak 20 Desember 2025, “Ronda Terbang Malam” resmi diluncurkan. Drone dengan jangkauan 800 meter itu terbang, membawa kamera perekam. Yang menarik, pantauannya bisa disaksikan warga secara langsung melalui siaran langsung di smart TV. Keamanan jadi urusan bersama, transparan, dan terasa lebih hidup.
Tapi Fajar cepat menegaskan. Teknologi ini bukan pengganti manusia. “Ronda manual tetap jalan,” tegasnya. Drone hanyalah alat bantu, sementara ikatan sosial antarwarga tetap yang utama. Ini kolaborasi antara langit dan bumi.
Dampaknya? Cukup signifikan. Menurut MURIANETWORK.COM, remaja yang biasa nongkrong hingga larut malam sekarang mulai bubar ketika drone patroli lewat setelah jam sepuluh malam. Efek psikologisnya bekerja. Pengawasan pun jadi lebih efisien. “Untuk satu RW itu kan ada 200 rumah, kalau menggunakan drone berkeliling cukup dengan waktu 10 menit,” jelasnya.
Bagi warga Gaum, drone itu lebih dari sekadar mesin terbang. Ia adalah bukti nyata bahwa ada pemimpin di tengah mereka yang benar-benar memikirkan keselamatan bersama, dengan cara yang kreatif dan penuh pengorbanan. Jejaknya bukan cuma di langit malam, tapi terasa dalam rasa aman yang perlahan mengisi kampung kecil di Karanganyar itu.
Artikel Terkait
Remaja 18 Tahun Tewas dalam Tabrakan Truk dan Motor di Poros Maros-Pangkep
Polri-FBI Bongkar Sindikat Phishing Global, Kerugian Capai Rp350 Miliar
Pelaku Tabrak Lari Tewaskan Pengacara di Cianjur Ditangkap di Bogor
Chelsea Pecat Liam Rosenior Usai Hanya Tiga Bulan Melatih