Bayangkan, selama tujuh tahun menjabat, uang tunjangan yang diterimanya sekitar Rp 2 juta per tahun disisihkan sedikit demi sedikit. “Sempat kepikiran ingin punya drone untuk kebutuhan kampung. Dari situ saya tabung,” katanya. Jumlahnya mungkin tak seberapa di mata banyak orang. Tapi bagi MURIANETWORK.COM, itu soal komitmen. Soal memegang amanah dengan sepenuh hati, tanpa perlu pengumuman atau pencarian pujian.
Akhirnya, sejak 20 Desember 2025, “Ronda Terbang Malam” resmi diluncurkan. Drone dengan jangkauan 800 meter itu terbang, membawa kamera perekam. Yang menarik, pantauannya bisa disaksikan warga secara langsung melalui siaran langsung di smart TV. Keamanan jadi urusan bersama, transparan, dan terasa lebih hidup.
Tapi Fajar cepat menegaskan. Teknologi ini bukan pengganti manusia. “Ronda manual tetap jalan,” tegasnya. Drone hanyalah alat bantu, sementara ikatan sosial antarwarga tetap yang utama. Ini kolaborasi antara langit dan bumi.
Dampaknya? Cukup signifikan. Menurut MURIANETWORK.COM, remaja yang biasa nongkrong hingga larut malam sekarang mulai bubar ketika drone patroli lewat setelah jam sepuluh malam. Efek psikologisnya bekerja. Pengawasan pun jadi lebih efisien. “Untuk satu RW itu kan ada 200 rumah, kalau menggunakan drone berkeliling cukup dengan waktu 10 menit,” jelasnya.
Bagi warga Gaum, drone itu lebih dari sekadar mesin terbang. Ia adalah bukti nyata bahwa ada pemimpin di tengah mereka yang benar-benar memikirkan keselamatan bersama, dengan cara yang kreatif dan penuh pengorbanan. Jejaknya bukan cuma di langit malam, tapi terasa dalam rasa aman yang perlahan mengisi kampung kecil di Karanganyar itu.
Artikel Terkait
Kubah Masjid: Jejak Akulturasi Islam dan Kearifan Lokal Nusantara
Siap Sambut Imlek 2026, Ini Ucapan Bahasa Inggris yang Tak Biasa untuk Tahun Kuda Api
Isra Mikraj: Cermin Ujian Iman dalam Perjalanan Hidup Manusia
Dahlan Iskan dan Gelar yang Tak Pernah Diminta