Pohon Kebaikan Wan Daud: Puisi untuk Membangkitkan Singa Islam yang Tertidur

- Sabtu, 17 Januari 2026 | 18:25 WIB
Pohon Kebaikan Wan Daud: Puisi untuk Membangkitkan Singa Islam yang Tertidur

Sufi yang "Muharrik"

Dari sudut pandang berbeda, Habiburrahman El Shirazy yang akrab disapa Kang Abik mengaku agak terkejut. Ia baru tahu kalau pemikir sekaliber Wan Daud ternyata juga penyair.

"Selama ini saya keasyikan nulis novel, padahal awalnya nulis puisi," kelakar penulis "Ayat-Ayat Cinta" itu. Membaca karya Wan Daud justru membangkitkan lagi semangatnya untuk menulis puisi.

Kang Abik mengaku tidak berani mengritik karya tersebut. Menurut timbangannya, secara estetika, kualitas "Pohon Kebaikan" tidak jauh berbeda dengan puisi-puisi Wan Daud sebelumnya.

Ia lalu meminjam penilaian Prof. Naquib Al Attas: "Pada hemat saya ciri-ciri puisi keislaman… memang nyata terdapat dalam puisi Profesor Wan Mohd Nor Wan Daud. Dan meskipun bentuk dan gaya bahasa dan penyampaiannya masih boleh diperbaiki dan diperhalusi."

Menurut Kang Abik, setidaknya ada empat kelebihan buku ini. Pertama, kontennya kaya tema dan padat ide. Kedua, ia bisa dikategorikan sebagai puisi pemikiran lebih dominan sebagai wadah gagasan daripada sekadar renungan.

Ketiga, jika digabung dengan karya puisi Wan Daud sebelumnya, kumpulan ini bisa dibilang yang paling komprehensif mengulas peradaban Islam di Tanah Melayu saat ini. Keempat, karyanya punya warna unik: menggabungkan unsur tasawuf dengan semangat "harakah" (gerakan).

"Beliau ini sufi yang "muharrik"," ungkap Kang Abik, yang baru saja meraih gelar doktor dengan predikat Magna Cum Laude. "Karyanya ada unsur sufi, tetapi juga kuat gerakannya."

Sekilas tentang Sang Profesor

Siapa sebenarnya Wan Mohd Nor Wan Daud? Ia adalah cendekiawan Muslim kontemporer yang cukup disegani. Pria kelahiran Tanah Merah, Kelantan, 23 Desember 1955 ini pernah memegang kursi pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas di RZS-CASIS, UTM.

Kini, selain sebagai penasihat akademik untuk Akademi Jawi Malaysia, ia juga terlibat dalam berbagai lembaga pendidikan dan think tank, termasuk di Singapura dan Turki.

Jejak pendidikannya dimulai dari Northern Illinois University, Amerika Serikat, tempat ia meraih gelar sarjana Biologi dan magister Pendidikan. Gelar doktor (Ph.D) ia dapatkan dari University of Chicago pada 1988, dengan bimbingan Prof. Fazlur Rahman.

Uniknya, semasa di AS, ia aktif di organisasi mahasiswa Muslim. Bahkan, ia pernah menjadi Presiden Nasional Asosiasi Mahasiswa Muslim Amerika Serikat dan Kanada satu-satunya orang Asia Tenggara yang mencapai posisi itu.

Karier akademiknya berjalan panjang. Ia pernah menjadi dosen di Universitas Nasional Malaysia, lalu membantu Prof. al-Attas mengelola ISTAC. Pada 2011, ia mendirikan dan menjadi direktur pertama CASIS UTM. Hingga kini, ia telah menulis dan mengedit lebih dari 15 buku serta puluhan artikel akademik, yang banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Di balik kesibukannya sebagai pemikir, ternyata ada jiwa penyair. Sebelum "Pohon Kebaikan", sudah tiga buku puisi yang ia lahirkan. Puisi-puisinya bukan sekadar karya sastra biasa. Di dalamnya ada refleksi mendalam tentang agama, filsafat, dan sejarah. Sebuah perpaduan langka antara ketajaman akal dan kelembutan rasa.

Disarikan dari berbagai sumber.


Halaman:

Komentar