Pohon Kebaikan Wan Daud: Puisi untuk Membangkitkan Singa Islam yang Tertidur

- Sabtu, 17 Januari 2026 | 18:25 WIB
Pohon Kebaikan Wan Daud: Puisi untuk Membangkitkan Singa Islam yang Tertidur

Depok – Sabtu lalu, tepatnya 17 Januari 2026, suasana di Depok, Jawa Barat, cukup ramai. Sekitar 200 orang berkumpul untuk satu tujuan: menyaksikan peluncuran buku terbaru cendekiawan muslim ternama asal Malaysia, Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud. Buku itu berjudul "Pohon Kebaikan Peradaban Fadilah".

Edisi Indonesia dari kumpulan puisi tentang semangat peradaban Islam ini diterbitkan oleh At-Taqwa College, Depok. Sebelumnya, buku ini lebih dulu terbit di Malaysia lewat Akademi Jawi Malaysia dan KasehDia Ventures Publishing.

Acara itu sendiri tidak hanya diisi oleh sang penulis. Hadir juga sejumlah nama besar. Ada Khalif Muamar, Associate Professor of Islamic Thought dari Universitas Teknologi Malaysia (UTM). Juga novelis kondang Habiburrahman El-Shirazy, yang juga Ketua Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) MUI. Mereka semua hadir untuk membedah karya terbaru Wan Daud. Dr. Adian Husaini, Ketua Umum DDII sekaligus Direktur At-Taqwa College, bertindak sebagai moderator yang memandu acara.

Dalam kesempatan itu, Wan Daud bercerita. "Pohon Kebaikan Peradaban Fadilah" ini adalah buku puisinya yang keempat.

Sebelumnya, sudah ada "Mutiara Taman Adabi" (2003), "Dalam Terang" (2004), dan "Jalan Pulang" (2020).

"Pohon kebaikan merupakan hasil puisi saya yang terpanjang sejauh ini," ungkap Prof. Wan dalam pengantar bukunya. "Dan yang paling luas liputannya tentang semangat agama dan peradaban Islam."

Ia menambahkan, struktur buku ini mirip dengan tiga karyanya terdahulu. Sebuah puisi panjang yang terdiri dari berbagai bab yang saling berhubungan dan memperkuat. Ada bab pengantar di awal dan penutup di akhir.

Menariknya, Wan Daud mengakui dengan jujur. Karya-karyanya, yang ditulis sejak awal 1990-an, termasuk "Pohon Kebaikan" ini, adalah hasil olah jiwa dan pikirannya. Semua itu tak lepas dari pengaruh gagasan dan perjuangan intelektual gurunya, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas.

Bahkan, dua bab dalam buku ini "Lampu Muhammad ke 'Alam Melayu" dan "Sahib Marbat" merupakan ringkasan dari pembelajarannya mendalam terhadap buku penting al-Attas, "Historical Fact and Fiction" (2001).

"Oleh karena itu, seperti dalam karya-karya saya yang lain, sudah sepatutnya saya menyampaikan rasa terima kasih saya yang terdalam kepada Yang Terhormat Profesor Kerajaan Syed Muhammad Naquib al-Attas," ungkapnya. Ia juga memohon doa terbaik sang guru untuk semua kontribusinya yang berharga bagi umat Islam.

Membangkitkan Singa yang Tertidur

Pembicaraan kemudian mengalir ke tanggapan para pembedah. Khalif Muamar, salah satu murid kepercayaan al-Attas, punya harapan besar. Ia berharap buku puisi Wan Daud ini bisa "membangunkan" umat Islam Indonesia.

Alasannya? Wan Daud sendiri pernah menyebut Muslim Indonesia bagai singa yang tertidur. "Maka puisi-puisi ini bisa membangkitkan singa itu," kata Muamar.

Menurutnya, buku keempat Wan Daud ini mengajak pembaca menyelami inti peradaban Islam. Merasakan ruh, jiwa, dan spirit para tokoh pembentuknya sejak zaman Rasulullah. Juga memahami tantangan yang mereka hadapi dan sifat-sifat mulia yang mereka miliki: kesetiaan, kejujuran, ketabahan.

"Prof. Wan seolah bercerita tentang sejarah Islam," ujar mantan Direktur RZS CASIS-UTM itu. "Jadi buku ini juga buku sejarah. Bukan cuma catatan nama dan peristiwa, tapi juga nilai-nilai dan prinsip universal yang kekal. Prinsip yang harus dimiliki pemuda muslim di mana pun dan kapan pun."

Muamar punya pandangan menarik soal generasi. Ia tak setuju dengan istilah "kesenjangan generasi" yang kerap digaungkan. Meski zaman berubah dengan tantangan yang makin hebat, menurutnya bekal yang dibutuhkan tetap sama: ilmu dan ruh yang telah ditiupkan Rasulullah sejak awal.

"Itulah yang ingin disampaikan Prof Wan," jelasnya.


Halaman:

Komentar