Isra' dan Mi'raj. Dua kata yang merangkum perjalanan agung Nabi Muhammad SAW. Isra' adalah perjalanan horizontal, dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa di malam hari. Sementara Mi'raj adalah perjalanan vertikalnya, naik ke langit hingga Sidratul Muntaha. Dua bentuk perjalanan ini, sejatinya, juga menjadi peta perjalanan hidup kita.
Yang horizontal itu ya hidup kita sehari-hari. Kita kerja, berusaha, mengurus dunia. Tapi, hidup cuma soal itu saja? Tentu tidak. Menurut sejumlah ulama, kita perlu memberi substansi dan makna pada semua jerih payah duniawi itu. Untuk apa? Untuk sesuatu yang diharapkan oleh Yang Maha Tinggi, Allah SWT.
Di sinilah dimensi vertikal, atau "mi'raj" itu, masuk. Dalam bidang apapun yang kita geluti ekonomi, politik, bahkan urusan rumah tangga kita harus mengaitkannya dengan Tuhan. Intinya, berusaha keras agar apa yang kita lakukan tidak melenceng dari kehendak-Nya.
Nah, dalam momentum Isra' Mi'raj itu, Nabi Muhammad SAW mendapat sebuah tugas mulia: perintah salat.
Kita diwajibkan menunaikannya lima kali sehari. Titik. Tak peduli Anda seorang direktur atau buruh, sesibuk apapun jadwal meeting Anda, ketika azan berkumandang, itulah panggilan yang harus diutamakan.
Lalu, apa gunanya? Tuhan sudah janjikan dalam Surah Al-'Ankabut Ayat 45. Salat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Jadi, orang yang sudah salat diharapkan bisa meninggalkan segala larangan-Nya.
Tapi realitanya? Kadang kita masih saja terperosok. Masih korupsi, masih bergunjing, masih melakukan hal-hal yang jelas-jelas dilarang. Kalau begitu, apa artinya?
Itu pertanda bahwa iman kita belum benar-benar menetap. Masih goyah.
Imam Syafii pernah bilang, iman itu yazid wa yanqush, bisa naik dan bisa turun. Bahkan bisa hilang sama sekali, lalu datang lagi. Nabi sendiri dalam sebuah hadis menyebut, saat seseorang mencuri atau korupsi, imannya sedang terbang dari dirinya.
Dari sini kita bisa tangkap hikmahnya. Salat lima waktu itu ibarat checkpoint, pengingat berulang untuk menjaga koneksi dengan Allah SWT. Agar kita tidak jatuh terlalu dalam ke lubang yang salah.
Kalau kita bisa menjalani dua perjalanan horizontal dan vertikal ini dengan baik, efeknya luar biasa. Bukan cuma dicintai oleh Sang Pencipta di langit, tapi juga bisa meraih cinta dari sesama di bumi. Manusia dan makhluk lainnya. Itulah keseimbangan hidup yang sejati.
Artikel Terkait
Unhas Perkuat Pengawasan dengan Teknologi dan Aparat untuk UTBK 2026
Dua Tersangka Ditetapkan dalam Kasus Penikaman Ketua Golkar Maluku Tenggara
Investor Abu Dhabi Ports Group Tinjau Peluang Kerja Sama di Makassar New Port
Buronan KKB Tewas Ditembak Satgas di Puncak Jaya