Lamongan Diperpanjang Status Tanggap Darurat, Genangan Air Belum Surut di Enam Kecamatan

- Jumat, 16 Januari 2026 | 11:00 WIB
Lamongan Diperpanjang Status Tanggap Darurat, Genangan Air Belum Surut di Enam Kecamatan

Genangan air masih menyelimuti enam kecamatan di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, hingga hari Jumat (16/1) ini. Nggak surut-surut. Menghadapi situasi ini, pemkab akhirnya memutuskan untuk memperpanjang status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi. Masa tanggap darurat itu kini berlaku sampai tanggal 26 Januari 2026.

Penyebabnya sih, hujan deras yang mengguyur sejak Desember tahun lalu. Tapi itu bukan satu-satunya masalah. Ada faktor lain yang bikin keadaan makin runyam: air kiriman dari Waduk Gondang. Aliran dari waduk itu menyebabkan debit Sungai Bengawan Jero melonjak, sehingga banjir pun tak terhindarkan.

Menurut Satriyo Nurseno, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, keputusan perpanjangan itu tertuang dalam Surat Keputusan Bupati.

"SK Status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi diperpanjang hingga 26 Januari 2026, KEPUTUSAN BUPATI LAMONGAN NOMOR 100.3.3.2/54/KPTS/413.013/2026," jelasnya, Jumat kemarin.

Di sisi lain, ada kabar yang bisa dibilang lumayan melegakan. Meski air belum juga surut, kondisi ketinggian genangan dilaporkan stabil. Yang lebih penting lagi, sampai saat ini tidak ada korban jiwa maupun pengungsian yang tercatat.

"Cuaca terpantau berawan, pengungsi nihil, korban nihil," ujar Satriyo, menyampaikan update terkini.

Tim BPBD di lapangan terus bekerja. Mereka memantau terus ketinggian air di Sungai Bengawan Jero dan titik-titik genangan. Upaya penanganan juga dilakukan, seperti mengaktifkan pompa dan membuka pintu air untuk mengurangi debit.

"Sebanyak 2 unit pompa di Rumah Pompa Kalitengah tetap diaktifkan dan pintu air dibuka guna mengurangi ketinggian debit air. 7 unit pompa di kuro Air di melik diterjunkan guna untuk mengurangi ketinggian debit air," tambahnya.

Lalu, daerah mana saja yang paling merasakan dampaknya? Wilayahnya cukup luas, tersebar di beberapa kecamatan. Kerugiannya pun nggak main-main.

Di Kecamatan Kalitengah, delapan desa terendam. Desa Jelakcatur dan Somosari termasuk yang parah, dengan ratusan rumah terendam. Fasilitas umum seperti sekolah dan tempat ibadah juga ikut tergenang. Hanya di Desa Gambuhan, genangan di jalan lingkungan dilaporkan mengalami peningkatan, sementara di lokasi lain statusnya stabil.

Kecamatan Turi juga tak kalah terdampak. Sepuluh desa dilaporkan kebanjiran, dengan Desa Putat Kumpul mencatat genangan di 231 rumah. Di sini, fasilitas pendidikan menjadi yang paling banyak terdampak dibanding jenis bangunan lainnya.

Selanjutnya, Kecamatan Karangbinangun. Delapan desa di sini terendam, dengan kerusakan meliputi rumah, jalan, dan sekolah. Di Kecamatan Deket, empat desa terendam dengan kedalaman genangan yang bervariasi. Desa Laladan jadi yang paling menderita, dengan 250 rumahnya terendam air.

Daerah lain yang cukup parah adalah Kecamatan Glagah. Sembilan desa di wilayah ini terendam. Desa Soko, contohnya, tidak hanya ratusan rumahnya yang kebanjiran, tapi juga tiga tempat ibadah, lima sekolah, puskesmas pembantu, dan kantor desa.

Sedikit bernapas lega, kondisi di Kecamatan Lamongan justru menunjukkan perbaikan. Statusnya sudah dinyatakan surut.

Kalau dihitung total kerugiannya, angka yang muncul cukup besar: 2.823 rumah terendam, 18 tempat ibadah, 76 sekolah, 4 puskesmas pembantu, dan 5 kantor desa ikut menjadi korban banjir ini. Situasinya memang belum pulih, tapi upaya penanganan darurat masih terus berjalan di lapangan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar