Momen kebersamaan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden kelima Megawati Soekarnoputri yang tampak bergandengan tangan usai Upacara Hari Lahir Pancasila mendapat sorotan khusus dari kalangan elite politik. Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Said Abdullah memberikan tanggapannya secara mendalam, mengurai hubungan kedua tokoh nasional tersebut dari tiga aspek fundamental yang dinilai menjadi pilar kokoh persahabatan mereka.
Menurut Said, dimensi pertama yang tak terbantahkan adalah sejarah pertemanan panjang yang telah terjalin selama puluhan tahun. Keduanya, ujar Said, pernah berbagi pengalaman berharga sebagai pasangan calon presiden dan wakil presiden pada kontestasi Pemilu 2009. “Pertemanan dan silaturahmi itu terus berlanjut meski Pilpres tahun 2009 telah usai,” jelas Said dalam keterangan tertulis yang diterima pada Selasa (2/6/2026). Ia menambahkan bahwa hubungan tersebut tetap terawat dengan baik bahkan ketika PDIP mengusung Joko Widodo pada Pemilu 2014 dan periode berikutnya, yang saat itu berkontestasi langsung dengan Prabowo.
“Persahabatan kedua beliau ini kokoh, bukan hanya sebatas pertemanan nasi goreng yang seringkali dilihat oleh publik. Pertemanan kedua beliau ini tulus, tak ada cela,” tegas Said, menekankan kedalaman relasi yang melampaui sekadar basa-basi politik.
Aspek kedua yang disoroti adalah posisi strategis Megawati sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Said menilai keputusan Prabowo untuk tetap mempercayakan tugas kenegaraan tersebut kepada Megawati, meskipun PDIP tidak berada dalam koalisi pemerintahan, menunjukkan kualitas kenegarawanan kedua tokoh. “Artinya, Presiden Prabowo memandang Ibu Mega memiliki kapasitas kenegarawanan, demikian halnya Presiden Prabowo, sehingga urusan tersebut melampaui urusan politik praktis,” ujarnya.
Lebih lanjut, Said menyebut bahwa keduanya memiliki pandangan yang selaras mengenai pentingnya lembaga negara seperti BPIP yang harus diisi oleh seorang negarawan. Urusan Pancasila, menurut Said, adalah fondasi yang melampaui segala kepentingan, dan hal inilah yang menjadi pedoman bersama bagi Prabowo dan Megawati. “Jadi kemesraan pada acara peringatan Hari Pancasila itu manifestasi dari hal ini,” kata Said, merujuk pada momen hangat yang terekam di hadapan publik.
Dimensi ketiga yang tak kalah penting adalah hubungan yang dibangun di atas pandangan politik kebangsaan. Said menekankan bahwa perbedaan jalan politik di mana PDIP memilih menjadi partai penyeimbang tidak pernah dimaknai oleh Prabowo sebagai permusuhan. Bahkan dalam pidatonya di DPR pada 20 Mei lalu, Presiden Prabowo secara terbuka menghormati dan mengapresiasi berbagai masukan yang disampaikan kader-kader PDIP. “Bagi saya, sosok kedua beliau ini sudah pada level political beyond, berpolitik untuk bangsa dan negara, bukan semata-mata kekuasaan,” tutur Said.
Ketiga fondasi inilah, menurut Said, yang menjadi alasan mengapa hubungan Megawati dan Prabowo tetap awet dan tidak ternoda meskipun partai mereka memiliki haluan politik yang berbeda. Keteladanan ini, lanjutnya, juga diikuti oleh jajaran Fraksi PDIP dan Gerindra di DPR. “Kedua fraksi bisa cair saling berdiskusi, bertukar pandangan dalam membahas kebijakan dan program-program pemerintah. Meskipun dalam beberapa hal terjadi perbedaan pandangan, namun keduanya tetap memahami posisi masing-masing dan saling menghargai sebagai sahabat politik yang tetap bisa bersinergi,” pungkas Said.
Artikel Terkait
Imigrasi Siapkan Koridor Khusus di Dua Bandara untuk Percepat Kepulangan Jemaah Haji
Ramos-Horta: Persiapan Keketuaan ASEAN 2029 Paksa Timor-Leste Percepat Pembangunan Nasional
Polres Rohil Ungkap 31 Kasus Narkotika dan Amankan 47 Tersangka Sepanjang Mei 2026
Aprilia Cetak Sejarah di Mugello: Bezzecchi Juara MotoGP Italia 2026, Martin P2