Di tengah upaya pemulihan pasca bencana, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyampaikan optimisme yang cukup tinggi untuk Sumatra Barat. Menurutnya, wilayah itu bisa pulih total sebelum Ramadan 2026 nanti. Targetnya, tak akan ada lagi pengungsi dan kehidupan masyarakat sudah berjalan normal menjelang bulan suci.
“Kalau saya melihat bahwa kalau untuk Sumatera Barat, saya sangat PD (percaya diri) sekali sebelum Ramadan itu akan kembali normal,”
begitu penegasan Tito dalam jumpa pers di kantornya, Kamis lalu. Suasana ruangan terasa fokus saat ia menjelaskan poin-poin kunci.
Fokus pemulihan di Sumbar, kata dia, kini hanya menyisakan dua pekerjaan besar. Yang pertama adalah perbaikan akses jalan, dan yang kedua adalah penanganan para pengungsi. Dua hal itu jadi kunci.
“Kuncinya ya jalan aja. Jalan dan pengungsi dua itu aja untuk Sumatera Barat. Mudah-mudahan sebelum Ramadan sudah selesai,”
ujarnya dengan nada harap.
Lain cerita untuk Sumatra Utara. Wilayah terdampak paling parah ada di Desa Garoga, Kabupaten Tapanuli Selatan, dan juga Tapanuli Tengah. Di sana, upaya pemulihan masih berkutat pada hal yang mendasar: membuka jalan yang tertutup longsor. “Jalan yang longsor kemudian tertutup sama pembersihan lumpur-lumpur dan menolong pengungsi,” jelas Tito. Pekerjaan berat, tapi harus diselesaikan.
Soal bantuan, pemerintah sudah mulai menyalurkan bantuan untuk kerusakan rumah kategori ringan dan sedang. Nah, bagi warga yang rumahnya rusak berat, pemerintah punya opsi lain. Mereka bisa pindah ke hunian sementara atau mendapatkan dana tunai.
“Yang (rusak) berat ini tinggal pindah ke huntara hunian sementara, atau pindah ke sebagian sudah menerima dana hunian. Artinya mereka bisa tinggal di rumah keluarganya atau sewa,”
katanya menerangkan.
Menyinggung Aceh, Tito mengakui ada tantangan yang berbeda. Di daerah dataran tinggi, fokusnya adalah menambah stok logistik dan tentu saja, memperbaiki jalan. “Kalau untuk Aceh, memang beda. Aceh itu di daerah gunungnya stoknya ditambah dan jalannya harus diperbaiki. Sambil ini masih musim hujan, alat beratnya stand by kami di sana,” paparnya.
Sementara untuk wilayah dataran rendah Aceh, ceritanya berganti. Fokus utama justru ada di pembersihan lumpur dan pengerukan sungai. “Di lowland, dataran rendah kunci utamanya pembersihan lumpur. Kalau lumpurnya sudah dibersihkan, sungainya sudah dikerok, itu akan jauh lebih mudah lagi menanganinya,”
tutup Tito mengakhiri penjelasannya. Sekarang, tinggal menunggu realisasi di lapangan.
Artikel Terkait
Harga BBM Non-Subsidi Tembus Rp 25 Ribu, Menteri ESDM: Itu untuk Orang Kaya
Harga Emas Perhiasan Minggu Pagi: Stagnan di Raja Emas, Naik di Laku Emas
Progres Pembangunan Jalan Multiyears Project di Sulsel Capai 25 Persen
Polisi Tangkap Otak Pembunuhan di Hotel Timika, Motif Balas Dendam