Warga Katulampa Geruduk Kafe yang Diduga Jual Miras, Satpol PP Turun Tangan

- Kamis, 15 Januari 2026 | 20:25 WIB
Warga Katulampa Geruduk Kafe yang Diduga Jual Miras, Satpol PP Turun Tangan

Bogor – Suasana di Katulampa R3 mendadak panas Kamis siang itu. Ratusan warga dari Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, memadati area depan Kafe Michan. Aksi mereka spontan dan penuh emosi, dipicu oleh kabar yang beredar: kafe itu diduga kuat menjual minuman keras.

Menurut sejumlah saksi, kerumunan warga mulai berkumpul sejak sebelum tengah hari. Mereka datang dengan satu tuntutan jelas: penghentian penjualan miras di lingkungan mereka yang dikenal religius.

Ustaz Firdaus Chaerul, yang tampil sebagai perwakilan, menyuarakan kegelisahan itu.

"Kampung kami ini agamis, banyak santri. Kami minta pelaku usaha menghormati norma yang berlaku di masyarakat, terutama norma agama," tegasnya.

Ia menjelaskan, warga sudah mengamati dan menemukan bukti pelanggaran. Bukan sekadar bir atau minuman ringan, melainkan minuman beralkohol dengan kadar yang sangat tinggi, di atas 40%. "Itu sudah melanggar aturan perizinan. Dan bagi kami, minuman beralkohol berapa pun kadarnya, kami tolak," tambah Firdaus dengan nada tegas.

Desakan warga rupanya membuahkan hasil. Tak lama setelah aksi berlangsung, petugas Satpol PP Kota Bogor turun tangan. Mereka memutuskan untuk menghentikan sementara operasional Kafe Michan.

Kabid Penegakan Perda Satpol PP setempat, Asep Setia Permana, mengonfirmasi langkah ini. Pihaknya bergerak cepat setelah mendapat laporan tentang demo warga. "Untuk menjaga kondusivitas dan melakukan klarifikasi ke pemilik kafe, kita hentikan sementara kegiatannya," ujar Asep.

Alasannya jelas: kafe tersebut diduga menjual minol golongan B dan C, termasuk koktail campuran vodka dan tequila, yang memicu kemarahan warga.

Di sisi lain, aksi warga ini juga menarik perhatian sejumlah tokoh. Terlihat hadir Subhan, anggota DPRD Kota Bogor, bersama Ustaz Asep Abdul Qodir dari Front Persaudaraan Islam Kota Bogor. Kehadiran mereka seolah menggarisbawahi betapa persoalan ini menyentuh sensitivitas yang dalam di tengah masyarakat.

Sekarang, Kafe Michan terlihat sepi. Pintunya terkunci, sementara proses klarifikasi dan penyelidikan masih berlangsung. Warga pun tampak masih waspada, menunggu kepastian nasib tempat yang sempat mengusik ketenangan kampung mereka.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar