Di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Kamis (15/1) lalu, Menteri Tito Karnavian memaparkan kondisi terkini pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Banjir dan longsor yang melanda ketiga provinsi itu, menurutnya, benar-benar meninggalkan luka yang dalam. Korban jiwa berjatuhan, infrastruktur hancur, dan roda ekonomi masyarakat pun terhenti.
“Bencana hidrometeorologi di tiga provinsi Sumatera ini telah menimbulkan kerugian dan dampak yang besar,” ujar Tito dalam rapat koordinasi.
“Per 14 Januari, korban hilang tercatat 141 orang. Jumlah pengungsi yang semula mencapai lebih dari 2 juta jiwa, kini sudah bisa ditekan menjadi sekitar 131,5 ribu.”
Dampaknya tersebar di 52 kabupaten dan kota. Kerusakan terlihat di mana-mana: rumah warga, fasilitas umum, jembatan, sekolah, puskesmas, hingga rumah ibadah. Data kerusakan rumah saja cukup mencengangkan. Totalnya mencapai 175.050 unit.
“Rinciannya, yang rusak ringan 75.653 rumah. Lalu rusak sedang 45.085, dan yang berat 53.412 unit,” jelasnya.
Progres Cepat di Sumbar, Tapi Masih Ada Pekerjaan
Dari ketiga wilayah, Sumatera Barat menunjukkan progres pemulihan yang paling menggembirakan. Meski begitu, angka korban tetap memilukan: 264 meninggal dan 72 orang masih dinyatakan hilang.
“Jumlah pengungsinya turun dari 16 ribu lebih menjadi sekitar 10,9 ribu,” kata Tito.
Kerusakan rumah di Sumbar tercatat 12.672 unit. Dari 19 kabupaten/kota, 16 daerah terdampak. Kabar baiknya, kini hanya tersisa 4 wilayah yang masih butuh perhatian serius. Seluruh pemerintahan daerah dan rumah sakit umum daerah (RSUD) sudah berjalan normal.
Namun begitu, tantangan masih ada. Beberapa puskesmas dan sekolah khususnya di Padang Pariaman, Agam, dan Kota Padang belum sepenuhnya pulih. Akses jalan di Pasaman, Pasaman Barat, Kepulauan Mentawai, dan Agam juga masih perlu perbaikan ekstra.
Artikel Terkait
Sindikat Bayi di Medan Terbongkar, TikTok Jadi Pasar Gelap
Prabowo Perintahkan Percepatan Industri Logam Tanah Jarang
Tito Karnavian Blusukan, Ungkap Peta Pemulihan Pascabencana Sumatera
Anis Matta: Dunia Menuju Konflik Global Lebih Berbahaya Mulai 2026