Angkringan Legendaris di Sleman Bertahan dengan Gorengan Rp 500, Meski Hujan Deras Tak Halangi Pelanggan

- Kamis, 15 Januari 2026 | 18:48 WIB
Angkringan Legendaris di Sleman Bertahan dengan Gorengan Rp 500, Meski Hujan Deras Tak Halangi Pelanggan

Hujan deras sejak pagi ternyata tak menghalangi langkah pelanggan setia Angkringan Tentrem Kang Doel di Janti, Sleman. Di Gang Sengon 9A itu, suasana tetap ramai meski cuaca kurang bersahabat pada Kamis (15/1) lalu. Mereka datang untuk mengusir keroncongan perut dengan harga yang bersahabat.

Menu andalan di sini? Nasi sop cuma tiga ribu rupiah. Murah sekali, bukan? Tapi hari itu, nasib kurang beruntung. Menu favorit itu sudah ludes terjual. Sebagai gantinya, para pelanggan beralih ke nasi kucing yang harganya tak kalah bersahabat: seribu lima ratus rupiah per bungkus.

Di balik angkringan legendaris ini ada Warsidi, pria 48 tahun yang merintis usahanya sejak 1994. Sudah puluhan tahun dia bertahan dengan filosofi harga murah. Tak cuma nasi, gorengannya pun terkenal sangat terjangkau hanya lima ratus rupiah per biji. Bandingkan dengan tempat lain yang biasanya menjual seribu hingga seribu lima ratus rupiah.

Sambil menggoreng tempe, Warsidi bercerita. “Saya mulai jualan angkringan dari 1994. Mulai masak sendiri tahun 2000,” ujarnya.

“Mau tidak mau karena persaingan, kita harus tetap harga gorengan Rp 500 dan minuman-minuman itu Rp 2-3 ribu.”

Baginya, keuntungan tipis bukan masalah. “Walaupun untung sedikit, kita syukuri saja,” tutur Warsidi yang biasa menutup warungnya sekitar pukul empat sore.

Harga gorengan lima ratus rupiah itu sudah dipertahankan sejak era 2000-an. Dulu, nasi sopnya juga cuma dua ribu. Sekarang naik jadi tiga ribu, tapi tetap termasuk sangat murah. “Paling mahal gorengan yang titipan kaya sosis solo itu Rp 1.000. Kalau yang saya goreng sendiri semua Rp 500 baik tempe, pisang, ketela, bakwan, tahu,” jelasnya.

Lalu, bagaimana caranya bertahan meski harga bahan baku terus merangkak naik? Rahasianya ada pada penjualan minuman dan sate. “Itu karena ketutup kaya (dari) minuman. Kalau goreng saja tidak akan tahan,” beber Warsidi. Sate usus, jamur, telur, dan bakso yang dibuat sendiri juga jadi sumber pemasukan lain.

Strateginya sederhana: jual makanan pokok dengan harga super terjangkau. Dengan empat ribu rupiah saja, pelanggan sudah bisa kenyang menyantap nasi sop plus dua gorengan. “Nasi kan bisa minta lagi tambah jadi Rp 5 ribu. Kalau porsinya Rp 3 ribu,” katanya.

Napak Tilas untuk Kenangan

Lokasi angkringan ini strategis, tak jauh dari Jalan Solo-Yogya dan dikelilingi banyak kampus. Harganya yang murah memang sengaja dipertahankan untuk membantu para mahasiswa perantau. “Banyak. Yang dulu kuliah pertama di sini dari 1994 sampai anak pun masih menikmati di sini,” kenang Warsidi.

Uniknya, banyak pelanggan lama yang kini sudah berkeluarga kembali ke sini untuk bernostalgia. Mereka napak tilas masa-masa kuliah sambil mengenalkan suasana angkringan pada istri dan anak. “Ada yang ke sini (napak tilas). Dari harga nasi Rp 100-150 waktu itu,” ujarnya sambil tersenyum.

Permintaan yang tinggi membuat Warsidi sendiri tak lagi menghitung berapa porsi yang terjual setiap hari. “Nasi susah (menghitungnya). Kalau sop biasanya satu soblok besar. Banyak sekali (piring) susah menghitungnya. Jam segini sudah habis ini,” ungkapnya.

Ke depan, dia bertekad mempertahankan harga murah itu. Meski begitu, Warsidi mengaku tak tahu sampai kapan kebijakan itu bisa bertahan di tengah gempuran inflasi.

Dari Sudut Pelanggan

Saiful, salah seorang pelanggan, mengaku hampir setiap hari membeli makanan di sini. “Apalagi penjualnya ramah-ramah,” katanya.

Menurutnya, angkringan dengan harga semurah ini sudah sangat langka. “Tempat lain satu biji seribu. Kadang Rp 5 ribu dapat empat,” ujar Saiful. Bagi dia dan banyak pelanggan lain, Angkringan Tentrem Kang Doel bukan sekadar tempat makan, tapi juga bagian dari cerita hidup mereka.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar