Di perlintasan rel kereta Kebon Melati, Tanah Abang, suasana Kamis siang itu ramai. Setiap lima menit, Jafar sukarelawan penjaga perlintasan harus mengangkat tangannya. Tugasnya sederhana: menghentikan deru sepeda motor yang hendak melintas. Tanpa palang pintu, kawasan itu mengandalkan kewaspadaan manusia.
Jafar berdiri tepat di tengah perlintasan, mengatur arus kendaraan dengan gerakan tangan yang sudah hafal. Ia tak sendirian. Bergantian dengan warga lain, mereka berjaga dua jam setiap hari. Rutinitas ini sudah seperti napas kedua bagi mereka.
Lalu, bagaimana dengan imbalannya? Jafar mengaku mendapat upah dari pengendara yang lewat. Sumbangan itu diberikan seikhlasnya, tanpa patokan tetap.
“Sekali jaga dapet Rp 50 ribu sampai Rp 60 ribu,” ujarnya.
Memang, perlintasan ini belum dilengkapi palang pintu sama sekali. Menurut sejumlah saksi, itulah alasan warga sekitar memutuskan untuk bergiliran berjaga. Upaya swadaya ini mereka lakukan semata-mata demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, terutama kecelakaan di jalur kereta yang sibuk.
Artikel Terkait
Cinta dan Misteri Berkembang di Tengah Pelarian Berbahaya
Tragedi Beruntun: Derek Ambruk di Samut Sakhon Tewaskan Dua Korban
Seskab dan Kepala OIKN Bahas Arahan Prabowo Usai Kunjungan ke Ibu Kota Baru
Hotel Tjimahi, Saksi Bisu Sejarah Cimahi, Akhirnya Dilepas Pemiliknya