Saya masih bergeming. Namun rupanya Pak Bey punya jurus pamungkas.
Saya langsung terdiam.
Salam Ganesha. Itu ucapan sakral, janji yang selalu diucapkan mahasiswa ITB. Rasanya melekat selamanya bagi siapa pun yang pernah mengalaminya.
Pertahanan saya runtuh saat itu juga. Akhirnya saya berjanji akan membantu promosi Pasar Seni ITB tahun ini. Event ini kan sudah ditunggu banyak orang, setelah hilang selama sebelas tahun. Bukan cuma oleh alumni.
Semoga Pasar Seni ITB kali ini jadi momentum kebangkitan geliat seni dan budaya. Sebuah kebanggaan buat warga Bandung, Jawa Barat, dan tentu saja keluarga besar ITB di mana pun mereka berada.
Kini, melangkah lagi melewati gerbang kampus di Jalan Ganesha, aroma nostalgia begitu kuat. Lapak-lapak seni mulai berdiri, karya mahasiswa memenuhi sudut, dan tawa riang pengunjang berseliweran di antara pepohonan tua yang masih tegak. Semua terasa seperti reuni emosional antara masa lalu dan masa kini. Ini bukan sekadar pameran. Lebih dari itu, ini ruang pertemuan lintas generasi. Di sini, alumni, mahasiswa, dan masyarakat menyatu dalam satu semangat: merayakan seni dan kreativitas Indonesia.
Barangkali, inilah makna sebenarnya dari Salam Ganesha. Sebuah panggilan halus yang tak pernah berhenti, mengingatkan kita untuk terus berkarya, berbakti, dan menjaga warisan almamater yang telah membentuk jati diri.
Artikel Terkait
Rieke Pitaloka Soroti Kasus Aurelie: Child Grooming Tak Bisa Dibiarkan
Sultan HB X Ingatkan Kepala Desa: Korupsi adalah Pengkhianatan Moral, Bukan Sekadar Pelanggaran Hukum
Prabowo Perkuat Fokus LPDP ke Bidang Sains dan Teknologi
Rocky Gerung Soroti Alasan Fufufafa Tak Boleh Hanya Dilupakan