Salam Ganesha yang Membawa Pulang: Sebuah Panggilan Setelah Dua Dekade

- Kamis, 15 Januari 2026 | 14:54 WIB
Salam Ganesha yang Membawa Pulang: Sebuah Panggilan Setelah Dua Dekade

Lulus dari ITB pada 2005, rasanya ikatan saya dengan kampus itu perlahan memudar. Saya sibuk berkarier sebagai jurnalis TV di Jakarta, hanya sesekali pulang ke Bandung untuk menjenguk orang tua. Tapi ternyata, ikatan batin itu tidak pernah benar-benar putus. Kenangan tentang segala kegiatan kuliah dan organisasi di ITB sepertinya sudah menyatu dalam diri. Bahkan setelah dua puluh tahun berlalu.

Pikiran saya langsung melayang ke masa TPB, Tahap Persiapan Bersama. Itu tahun pertama yang melelahkan. Saya dan teman-teman seangkatan harus bergulat dengan mata kuliah dasar sains matematika, fisika, kimia yang bagi sebagian dari kami terasa jauh dari jurusan yang kami minati. Program itu memang dirancang untuk mempersiapkan mahasiswa baru, baik secara akademik maupun mental. Tujuannya pemerataan pengetahuan dasar. Dan ya, kami harus lulus!

Masa orientasi mahasiswa baru pun tak kalah intens. Kala itu, atmosfer kampus masih sangat maskulin. Jadi kegiatan ospek banyak diisi dengan aktivitas fisik: jalan dan lari bersama, latihan baris-berbaris, atau push up dadakan. Seringnya, kami mengeluh karena kelelahan dan waktu yang tersita. Namun begitu, kalau diingat sekarang, semua kenangan itu justru terasa manis. Bahkan mengharukan.

Kampus ITB di Ganesha dengan pohon-pohon besarnya yang rindang, selalu memberi rasa tenang. Seperti perlindungan saat hari-hari dipadati ujian, praktikum, atau begadang membuat maket. Tak terasa empat tahun berlalu. Saya lulus dengan baik, dan untungnya tak pernah dipanggil ‘ayam sayur’ oleh para senior sebutan untuk mereka yang sudah di tahun ketiga atau lebih. Saya pergi membawa dua jaket kenangan: biru tua almamater dan merah marun himpunan.

Lalu, awal Oktober 2025, telepon tak terduga datang. Dari Bey Machmudin, Penjabat Gubernur Jawa Barat. Kami pernah bekerja sama di BUMN tahun 2017. Ia meminta bantuan saya untuk urusan publikasi dan komunikasi Pasar Seni ITB, yang akan digelar pertengahan Oktober. Padahal, gelar saya ‘Sarjana Teknik’. Tapi sejak lulus, jalan hidup saya justru di jurnalisme dan komunikasi. Sampai-sampai di 2020 saya mendirikan perusahaan sendiri, Alika Communication.

Pak Bey tahu betul soal itu. Kami kerap berkoordinasi selama penanganan COVID dulu. Awalnya saya ragu. Waktunya mepet, dan jadwal saya sudah penuh dengan komitmen kerja lain yang sulit ditinggalkan.

Tapi dia tak menyerah. Upayanya meyakinkan saya dimulai dengan narasi bahwa keluarga saya adalah keluarga besar ITB. Ayah dan kedua saudara laki-laki saya juga alumni. Bahkan ayah menyelesaikan S1, S2, sampai S3-nya di kampus yang sama.


Halaman:

Komentar