Lulus dari ITB pada 2005, rasanya ikatan saya dengan kampus itu perlahan memudar. Saya sibuk berkarier sebagai jurnalis TV di Jakarta, hanya sesekali pulang ke Bandung untuk menjenguk orang tua. Tapi ternyata, ikatan batin itu tidak pernah benar-benar putus. Kenangan tentang segala kegiatan kuliah dan organisasi di ITB sepertinya sudah menyatu dalam diri. Bahkan setelah dua puluh tahun berlalu.
Pikiran saya langsung melayang ke masa TPB, Tahap Persiapan Bersama. Itu tahun pertama yang melelahkan. Saya dan teman-teman seangkatan harus bergulat dengan mata kuliah dasar sains matematika, fisika, kimia yang bagi sebagian dari kami terasa jauh dari jurusan yang kami minati. Program itu memang dirancang untuk mempersiapkan mahasiswa baru, baik secara akademik maupun mental. Tujuannya pemerataan pengetahuan dasar. Dan ya, kami harus lulus!
Masa orientasi mahasiswa baru pun tak kalah intens. Kala itu, atmosfer kampus masih sangat maskulin. Jadi kegiatan ospek banyak diisi dengan aktivitas fisik: jalan dan lari bersama, latihan baris-berbaris, atau push up dadakan. Seringnya, kami mengeluh karena kelelahan dan waktu yang tersita. Namun begitu, kalau diingat sekarang, semua kenangan itu justru terasa manis. Bahkan mengharukan.
Kampus ITB di Ganesha dengan pohon-pohon besarnya yang rindang, selalu memberi rasa tenang. Seperti perlindungan saat hari-hari dipadati ujian, praktikum, atau begadang membuat maket. Tak terasa empat tahun berlalu. Saya lulus dengan baik, dan untungnya tak pernah dipanggil ‘ayam sayur’ oleh para senior sebutan untuk mereka yang sudah di tahun ketiga atau lebih. Saya pergi membawa dua jaket kenangan: biru tua almamater dan merah marun himpunan.
Lalu, awal Oktober 2025, telepon tak terduga datang. Dari Bey Machmudin, Penjabat Gubernur Jawa Barat. Kami pernah bekerja sama di BUMN tahun 2017. Ia meminta bantuan saya untuk urusan publikasi dan komunikasi Pasar Seni ITB, yang akan digelar pertengahan Oktober. Padahal, gelar saya ‘Sarjana Teknik’. Tapi sejak lulus, jalan hidup saya justru di jurnalisme dan komunikasi. Sampai-sampai di 2020 saya mendirikan perusahaan sendiri, Alika Communication.
Pak Bey tahu betul soal itu. Kami kerap berkoordinasi selama penanganan COVID dulu. Awalnya saya ragu. Waktunya mepet, dan jadwal saya sudah penuh dengan komitmen kerja lain yang sulit ditinggalkan.
Tapi dia tak menyerah. Upayanya meyakinkan saya dimulai dengan narasi bahwa keluarga saya adalah keluarga besar ITB. Ayah dan kedua saudara laki-laki saya juga alumni. Bahkan ayah menyelesaikan S1, S2, sampai S3-nya di kampus yang sama.
Saya masih bergeming. Namun rupanya Pak Bey punya jurus pamungkas.
“Apakah Alia sudah melupakan Salam Ganesha?”
Saya langsung terdiam.
Salam Ganesha. Itu ucapan sakral, janji yang selalu diucapkan mahasiswa ITB. Rasanya melekat selamanya bagi siapa pun yang pernah mengalaminya.
Pertahanan saya runtuh saat itu juga. Akhirnya saya berjanji akan membantu promosi Pasar Seni ITB tahun ini. Event ini kan sudah ditunggu banyak orang, setelah hilang selama sebelas tahun. Bukan cuma oleh alumni.
Semoga Pasar Seni ITB kali ini jadi momentum kebangkitan geliat seni dan budaya. Sebuah kebanggaan buat warga Bandung, Jawa Barat, dan tentu saja keluarga besar ITB di mana pun mereka berada.
Kini, melangkah lagi melewati gerbang kampus di Jalan Ganesha, aroma nostalgia begitu kuat. Lapak-lapak seni mulai berdiri, karya mahasiswa memenuhi sudut, dan tawa riang pengunjang berseliweran di antara pepohonan tua yang masih tegak. Semua terasa seperti reuni emosional antara masa lalu dan masa kini. Ini bukan sekadar pameran. Lebih dari itu, ini ruang pertemuan lintas generasi. Di sini, alumni, mahasiswa, dan masyarakat menyatu dalam satu semangat: merayakan seni dan kreativitas Indonesia.
Barangkali, inilah makna sebenarnya dari Salam Ganesha. Sebuah panggilan halus yang tak pernah berhenti, mengingatkan kita untuk terus berkarya, berbakti, dan menjaga warisan almamater yang telah membentuk jati diri.
Artikel Terkait
Prabowo dan KSAD Bahas Capaian TNI AD: 300 Jembatan dan Renovasi Sekolah Tuntas dalam Tiga Bulan
IHSG Melemah Tipis ke 7.621, Tekanan Jual Masih Membayangi
Mentan: Swasembada Pangan Hanya Mungkin dengan Sinergi Pusat-Daerah
PN Jakarta Pusat Tolak Eksepsi Mardiono, Perkara Muktamar PPP Lanjut ke Pemeriksaan Bukti