Setelah berhari-hari ketegangan, akhirnya ada titik terang. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyetujui kesepakatan gencatan senjata dengan Lebanon. Gencatan ini direncanakan bakal berlangsung selama sepuluh hari.
Yang menarik, Netanyahu menegaskan pasukan Israel tak akan sepenuhnya angkat kaki. Mereka akan tetap berada di dalam zona keamanan di wilayah Lebanon, kira-kira selebar 10 kilometer dari perbatasan. Menurutnya, ini langkah krusial untuk mencegah infiltrasi dan serangan rudal anti-tank yang kerap menyasar pemukiman Israel.
"Kami tetap berada di Lebanon di zona keamanan yang diperluas," tegas Netanyahu.
Dalam pernyataan videonya yang dirilis Jumat (17/4/2026), dia menggambarkan zona baru ini dengan penuh keyakinan. "Ini akan jauh lebih kuat, jauh lebih ampuh, jauh lebih berkelanjutan, dan jauh lebih solid daripada yang kita miliki sebelumnya," ujarnya.
Namun begitu, gencatan ini bukan akhir dari cerita. Netanyahu menyebutnya sebagai jeda untuk membuka ruang dialog lebih lanjut. Bahkan, dia mengungkapkan bahwa mantan Presiden AS Donald Trump telah mengundangnya bersama Presiden Lebanon, Joseph Aoun, untuk bertemu di Washington DC.
Undangan itu mungkin agak janggal. Sebab, baru sehari sebelumnya, tepatnya Kamis, Aoun dilaporkan menolak berbicara langsung dengan Netanyahu via telepon. Alasannya jelas: serangan Israel di Lebanon saat itu masih berlangsung.
Di sisi lain, Netanyahu terlihat sangat menekankan posisi tawarnya. Dia dengan gamblang menyebut dua tuntutan utama Israel dalam setiap pembicaraan damai nanti.
"Dalam pembicaraan ini, kami memiliki dua tuntutan: pelucutan senjata Hizbullah (dan) kesepakatan perdamaian berkelanjutan - dari posisi yang kuat," katanya.
Pelucutan senjata kelompok Hizbullah itu, baginya, adalah prasyarat mutlak yang tak bisa ditawar. Netanyahu juga mengaku telah menolak dua syarat yang diajukan Hizbullah: penarikan penuh Israel dari Lebanon dan skema gencatan ala "ketenangan dibalas ketenangan".
Di balik semua syarat dan penolakan itu, Netanyahu menyimpan secercah harapan. Dia melihat kesempatan emas dalam jeda sepuluh hari ini.
"Kita memiliki kesempatan untuk membuat kesepakatan perdamaian bersejarah dengan Lebanon," ujar Netanyahu, menambahkan bahwa gencatan ini adalah peluang bagi Israel untuk meraih kesepakatan bersejarah dengan Beirut.
Jadi, apa yang terjadi sepuluh hari ke depan? Semuanya tergantung pada pembicaraan yang rumit dan sejarah panjang permusuhan antara kedua negara tetangga ini.
Artikel Terkait
Pakar: Gencatan Senjata AS-Iran Masih Bisa Diperpanjang dengan Syarat
Evakuasi Korban Helikopter Jatuh di Sekadau Dilanjutkan Pagi Ini
Harga Buyback Emas Antam di Pegadaian Turun Rp5.000 per Gram
Ketua Ombudsman RI Ditahan Terkait Dugaan Suap Tata Kelola Nikel Rp1,5 Miliar