Isu Child Grooming yang Kembali Menyeruak
Kasus Suci ini muncul di saat publik sedang ramai membicarakan soal child grooming. Pemicunya adalah buku karya Aurelie Moeremans berjudul "Broken Strings". Di dalamnya, Aurelie menceritakan pengalaman pahitnya sebagai korban grooming sejak usia 15 tahun.
Ia mengaku pernah menjalin hubungan dengan pria yang usianya jauh lebih tua, hampir 30 tahun. Selama hubungan itu yang berujung pada pernikahan paksa Aurelie mengalami berbagai perlakuan tak pantas. Mulai dari pelecehan hingga ancaman. Beruntung, ia berhasil keluar dari lingkaran itu setelah beranjak dewasa.
Kisah Aurelie menjadi pengingat yang keras. Child grooming bukanlah tindakan spontan, melainkan proses manipulasi psikologis yang bertahap. Pelakunya dengan sabar membangun kepercayaan, seringkali berpura-pura menjadi teman atau sosok pelindung yang bisa diandalkan.
Lalu, bagaimana modusnya? Biasanya, pelaku akan menyamar sebagai teman yang punya minat sama. Mereka juga aktif menjangkau anak-anak lewat media sosial atau bahkan game online, tempat mereka bisa menyembunyikan identitas asli dengan mudah.
Taktik lain yang kerap dipakai adalah menunjukkan kepedulian berlebihan. Mereka menawarkan bantuan saat si anak sedang punya masalah. Bantuan itu kemudian dijadikan 'utang budi', yang pada akhirnya membuat korban merasa harus membalasnya seringkali dengan cara yang tak diinginkan.
Untuk orang tua, cerita-cerita ini jelas jadi alarm. Kewaspadaan harus ditingkatkan, terutama di era di mana interaksi digital sudah menjadi bagian keseharian anak-anak. Mengawasi bukan berarti mengekang, tapi memastikan mereka aman dari bahaya yang terselubung dalam kedok pertemanan.
Artikel Terkait
Prabowo Perkuat Fokus LPDP ke Bidang Sains dan Teknologi
Rocky Gerung Soroti Alasan Fufufafa Tak Boleh Hanya Dilupakan
Dr. GT Ng Soroti Keunikan Pemilu: Dari Somalia yang Lambat hingga Fenomena Hasil Sudah Diketahui di Indonesia
Kakeh Kardan Hilang di Hutan Pekuncen, Pencarian Dihadang Tebing dan Hujan